Sabtu, 21 Januari 2017

MAKALAH KOMUNIKASI KELOMPOK
DI AJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS UAS MATA KULIAH
KOMUNIKASI KELOMPOK

 




Image result for logo fikom unsub






Oleh:

1.   Gilang Ramadhan_E1A. 06.00162
2.   Alif Faturahman Nurifki_E1A.14.057
3.   Eka Elawati_E1A.14.0558
4.   Deni Suhendi_E1A.14.0562
5.   Cucu Mulyati_ E1A.14.0561


PROGRAM  STUDI ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU KOMUNIMASI
UNIVERSITAS SUBANG
SUBANG
2017


KATA PENGANTAR

              Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam,atas segala rahmat dan karunianya kami dapat menyelesaikan makalah tentang  “Komunikasi Kelompok” shalawat serta salam semoga senantiasa tetap tercuraha kepada junjungan kita nabi,pemabawa risalah kebenaran yaitu  Muhammad SAW.

Tujuan penulisan makalah ini untuk menyelesaikan Tugas UAS mata kuliah Komunikasi Kelompok  yang diberikan Dosen Pembimbing. Selain itu juga untuk meningkatkan pemahaman kami terhadap materi  Komunikasi Kelompok. Kami telah berusaha sesuai dengan kemampuan, namun kami yakin bahwa manusia itu tidak ada yang sempurna. Seandainya dalam penulisan makalah ini ada yang kurang, maka itulah bagian dari kelemahan kami. Mudah-mudahan melalui kelemahan itu yang akan membawa kesadaran kami akan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Oleh sebab itu, kritik dan saran yang konstruktif sangat diharapkan dari pembaca. Dan berharap semoga makalah ini dapat bermanfa’at. Amin












  Subang,20 Januari 2017


Penyusun


DAFTAR ISI

                                                                                                                                         halaman
KATA PENGANTAR....................................................................................................... i
DAFTAR ISI...................................................................................................................... ii
BAB I. PENDAHULUAN
     1.1 Latar Belakang .........................................................................................................1
     1.2 Rumusan Masalah.................................................................................................... 2
     1.3 Tujuan.......................................................................................................................2
BAB II. PEMBAHASAN
     2.1 Pengertian Komunikasi Kelompok........................................................................... 3
     2.2 Klasifikasi dan Karakteristik Kelompok................................................................... 4
     2.2.1 Kelompok Primer dan Sekunder......................................................................4
     2.2.2 Kelompok Keanggotaan dan Kelompok Rujukan...........................................  5
     2.2.3 Kelompok Deskriptif dan Kelompok Perspektif.............................................. 5
2.3 Pengaruh Kelompok Pada Prilaku Komunikasi.............................................................. 6
2.3.1 Konformitas.................................................................................................... 6
2.3.2 Fasilitasi Sosial................................................................................................ 6
2.3.3 Polarisasi......................................................................................................... 6
2.4 Faktor yang Mempengaruhi Keefektifan Kelompok.....................................................   7
2.4.1 Faktor Situasional Karakteristik Kelompok.....................................................  7
2.4.2 Faktor Personal Karakteristik Kelompok......................................................... 9
2.5 Masalah dan Konflik dalam Kelompok......................................................................... 10
2.5.1 Pemikiran Kelompok (group think).................................................................. 11
2.5.2 Teori Analisis Proses Interaksi......................................................................... 14
2.5.3 Teori Sosiometris............................................................................................ 15
2.5.4 Analisis........................................................................................................... 16
2.5.5 Penyebab Masalah.......................................................................................... 18

BAB III. PENUTUP
     3 Kesimpulan................................................................................................................. 20
DAFTAR PUSTAKA






BAB I
PENDAHULUAN


1.Latar Belakang
Dalam kehidupan bersosial, kita sebagai manusia tidak dapat untuk tidak berkomunikasi  “We can’t not communicate”. Sama hal nya pada saat kita berkelompok. Komunikasi seakan menjadi ruh dalam jasad sebuah kelompok. Salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi sukses atau gagalnya suatu kelompok/komunitas bergantung pada komunikasinya. Seberapa intens dan efektif suatu komunikasi dapat dibangun. Dalam komunikasi kelompok kita harus mengetahui pengertian, sifat, klasifikasi dan lain-lain yang termasuk kedalam unsur-unsur komunikasi kelompok.
Saat ini, banyak permasalahan yang terjadi di kalangan sebuah kelompok dan inti masalahnya adalah kurangnya komunikasi. Permasalahan komunikasi yang terjadi pun tak hanya intern saja tapi juga eksternalnya. Oleh karena itu penulis akan memaparkan hal tersebut.
Berdasarkan permasalahan di atas, Maka dari itu, penulis mencari informasi dan menyusun makalah mengenai materi komunikasi kelompok ini yang mudah-mudahan bisa menambahkan wawasan kita mengenai salah satu dari bentuk komunikasi ini. Hal ini pun merupakan salah satu upaya pemenuhan tugas mata kuliah Teori Komunikasi.

1.2 Rumusan masalah
Agar penulisan makalah ini tersusun secara sistematis dan terarah, maka rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut :

1.Apa yang dimaksud dengan Komunikasi Kelompok ?
2.Apa saja Klasifikasi Kelompok dan Karakteristik Komunikasinya ?
3.Bagaimana Pengaruh Kelompok pada Perilaku Komunikasi ?
4.Apa saja Faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan kelompok



1.3 Tujuan
Semua aktifitas yang dilakukan tentunya harus mempunyai tujuan yang jelas, sehingga diharapkan akan memperoleh hasil yang maksimal dan tentu saja dalam proses di dalamnya pun membutuhkan langkah-langkah konkret yang sistematis. Adapun tujuan penulisan makalah ini secara detail adalah sebagai berikut :

1.Mengetahui arti Komunikasi Kelompok 
2.Mengetahui  Klasifikasi Kelompok dan Karakteristik Komunikasinya
3.Mengetahui Pengaruh Kelompok pada Perilaku Komunikasi
4.Mengetahui Faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan kelompok





















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Komunikasi Kelompok.
Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut (Deddy Mulyana, 2005). Kelompok ini misalnya adalah keluarga, kelompok diskusi, kelompok pemecahan masalah, atau suatu komite yang tengah berapat untuk mengambil suatu keputusan. Dalam komunikasi kelompok, juga melibatkan komunikasi antarpribadi. Karena itu kebanyakan teori komunikasi antarpribadi berlaku juga bagi komunikasi kelompok.
Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok “kecil” seperti dalam rapat, pertemuan, konperensi dan sebagainya (Anwar Arifin, 1984). Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005) mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. Kedua definisi komunikasi kelompok di atas mempunyai kesamaan, yakni adanya komunikasi tatap muka, peserta komunikasi lebih dari dua orang, dan memiliki susunan rencana kerja tertentu untuk mencapai tujuan kelompok.
Dan B. Curtis, James J.Floyd, dan Jerril L. Winsor (2005, h. 149) menyatakan komunikasi kelompok terjani ketika tiga orang atau lebih bertatap muka, biasanya di bawah pengarahan seorang pemimpin untuk mencapai tujuan atau sasaran bersama dan mempengaruhi satu sama lain. Lebih mendalam ketiga ilmuwan tersebut menjabarkan sifat-sifat komunikasi kelompok sebagai berikut:
1.      Kelompok berkomunikasi melalui tatap muka;
2.      Kelompok memiliki sedikit partisipan;
3.      Kelompok bekerja di bawah arahan seseorang pemimpin;
4.      Kelompok membagi tujuan atau sasaran bersama;
5.      Anggota kelompok memiliki pengaruh atas satu sama lain.

2.2 Klasifikasi Kelompok dan Karakteristik Komunikasi
Telah banyak klasifikasi kelompok yang dilahirkan oleh para ilmuwan sosiologi, namun dalam kesempatan ini kita sampaikan hanya tiga klasifikasi kelompok.
Karakteristik kelompok
1.      Terdiri dari dua orang atau lebih yang berinteraksi secara verbal atau nonverbal
2.      Individu dalam kelompok harus mempunyai pengaruh terhadap anggota yang lain
3.      Mempunyai tujuan dan minat yang sama
4.      Setiapa anggota saling mengenal dan dapat membedakan orang-orang yng tidak termasuk dalam kelompok.
2.2.1        Kelompok primer dan sekunder.
Charles Horton Cooley pada tahun 1909 (dalam Jalaluddin Rakhmat, 1994) mengatakan bahwa kelompok primer adalah suatu kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan akrab, personal, dan menyentuh hati dalam asosiasi dan kerja sama. Sedangkan kelompok sekunder adalah kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan tidak akrab, tidak personal, dan tidak menyentuh hati kita.
Jalaludin Rakhmat membedakan kelompok ini berdasarkan karakteristik komunikasinya, sebagai berikut:
1.      Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan meluas. Dalam, artinya menembus kepribadian kita yang paling tersembunyi, menyingkap unsur-unsur backstage (perilaku yang kita tampakkan dalam suasana privat saja). Meluas, artinya sedikit sekali kendala yang menentukan rentangan dan cara berkomunikasi. Pada kelompok sekunder komunikasi bersifat dangkal dan terbatas.
2.      Komunikasi pada kelompok primer bersifat personal, sedangkan kelompok sekunder nonpersonal.
3.      Komunikasi kelompok primer lebih menekankan aspek hubungan daripada aspek isi, sedangkan kelompok sekunder adalah sebaliknya.
4.      Komunikasi kelompok primer cenderung ekspresif, sedangkan kelompok sekunder instrumental.
5.      Komunikasi kelompok primer cenderung informal, sedangkan kelompok sekunder formal.

2.2.2        Kelompok keanggotaan dan kelompok rujukan.
Theodore Newcomb (1930) melahirkan istilah kelompok keanggotaan (membership group) dan kelompok rujukan (reference group). Kelompok keanggotaan adalah kelompok yang anggota-anggotanya secara administratif dan fisik menjadi anggota kelompok itu. Sedangkan kelompok rujukan adalah kelompok yang digunakan sebagai alat ukur (standard) untuk menilai diri sendiri atau untuk membentuk sikap.
Menurut teori, kelompok rujukan mempunyai tiga fungsi: fungsi komparatif, fungsi normatif, dan fungsi perspektif. Saya menjadikan Islam sebagai kelompok rujukan saya, untuk mengukur dan menilai keadaan dan status saya sekarang (fungsi komparatif. Islam juga memberikan kepada saya norma-norma dan sejumlah sikap yang harus saya miliki-kerangka rujukan untuk membimbing perilaku saya, sekaligus menunjukkan apa yang harus saya capai (fungsi normatif). Selain itu, Islam juga memberikan kepada saya cara memandang dunia ini-cara mendefinisikan situasi, mengorganisasikan pengalaman, dan memberikan makna pada berbagai objek, peristiwa, dan orang yang saya temui (fungsi perspektif). Namun Islam bukan satu-satunya kelompok rujukan saya. Dalam bidang ilmu, Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) adalah kelompok rujukan saya, di samping menjadi kelompok keanggotaan saya. Apapun kelompok rujukan itu, perilaku saya sangat dipengaruhi, termasuk perilaku saya dalam berkomunikasi.
2.2.3 Kelompok deskriptif dan kelompok persfektif
John F. Cragan dan David W. Wright (1980) membagi kelompok menjadi dua: deskriptif dan peskriptif. Kategori deskriptif menunjukkan klasifikasi kelompok dengan melihat proses pembentukannya secara alamiah. Berdasarkan tujuan, ukuran, dan pola komunikasi, kelompok deskriptif dibedakan menjadi tiga: a. kelompok tugas; b. kelompok pertemuan; dan c. kelompok penyadar. Kelompok tugas bertujuan memecahkan masalah, misalnya transplantasi jantung, atau merancang kampanye politik. Kelompok pertemuan adalah kelompok orang yang menjadikan diri mereka sebagai acara pokok. Melalui diskusi, setiap anggota berusaha belajar lebih banyak tentang dirinya. Kelompok terapi di rumah sakit jiwa adalah contoh kelompok pertemuan. Kelompok penyadar mempunyai tugas utama menciptakan identitas sosial politik yang baru. Kelompok revolusioner radikal; (di AS) pada tahun 1960-an menggunakan proses ini dengan cukup banyak.
Kelompok preskriptif, mengacu pada langkah-langkah yang harus ditempuh anggota kelompok dalam mencapai tujuan kelompok. Cragan dan Wright mengkategorikan enam format kelompok preskriptif, yaitu: diskusi meja bundar, simposium, diskusi panel, forum, kolokium, dan prosedur parlementer.
2.3  Pengaruh Kelompok pada Prilaku Komunikasi
2.3.1 Konformitas
Konformitas adalah perubahan perilaku atau kepercayaan menuju (norma) kelompok sebagai akibat tekanan kelompok-yang real atau dibayangkan. Bila sejumlah orang dalam kelompok mengatakan atau melakukan sesuatu, ada kecenderungan para anggota untuk mengatakan dan melakukan hal yang sama. Jadi, kalau anda merencanakan untuk menjadi ketua kelompok,aturlah rekan-rekan anda untuk menyebar dalam kelompok. Ketika anda meminta persetujuan anggota, usahakan rekan-rekan anda secara persetujuan mereka. Tumbuhkan seakan-akan seluruh anggota kelompok sudah setuju. Besar kemungkinan anggota-anggota berikutnya untuk setuju juga.
2.3.2 Fasilitasi sosial
Fasilitasi (dari kata Prancis facile, artinya mudah) menunjukkan kelancaran atau peningkatan kualitas kerja karena ditonton kelompok. Kelompok mempengaruhi pekerjaan sehingga menjadi lebih mudah. Robert Zajonz (1965) menjelaskan bahwa kehadiran orang lain-dianggap-menimbulkan efek pembangkit energi pada perilaku individu. Efek ini terjadi pada berbagai situasi sosial, bukan hanya didepan orang yang menggairahkan kita. Energi yang meningkat akan mempertingi kemungkinan dikeluarkannya respon yang dominan. Respon dominan adalah perilaku yang kita kuasai. Bila respon yang dominan itu adalah yang benar, terjadi peningkatan prestasi. Bila respon dominan itu adalah yang salah, terjadi penurunan prestasi. Untuk pekerjaan yang mudah, respon yang dominan adalah respon yang banar; karena itu, peneliti-peneliti melihat melihat kelompok mempertinggi kualitas kerja individu.
2.3.3 Polarisasi
Polarisasi adalah kecenderungan ke arah posisi yang ekstrem. Bila sebelum diskusi kelompok para anggota mempunyai sikap agak mendukung tindakan tertentu, setelah diskusi mereka akan lebih kuat lagi mendukung tindakan itu. Sebaliknya, bila sebelum diskusi para anggota kelompok agak menentang tindakan tertentu, setelah diskusi mereka akan menentang lebih keras.


2.4  Faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan kelompok
Anggota-anggota kelompok bekerja sama untuk mencapai dua tujuan: a. melaksanakan tugas kelompok, dan b. memelihara moral anggota-anggotanya. Tujuan pertama diukur dari hasil kerja kelompok-disebut prestasi (performance) tujuan kedua diketahui dari tingkat kepuasan (satisfacation). Jadi, bila kelompok dimaksudkan untuk saling berbagi informasi (misalnya kelompok belajar), maka keefektifannya dapat dilihat dari beberapa banyak informasi yang diperoleh anggota kelompok dan sejauh mana anggota dapat memuaskan kebutuhannya dalam kegiatan kelompok.
Jalaluddin Rakhmat (2004) meyakini bahwa faktor-faktor keefektifan kelompok dapat dilacak pada karakteristik kelompok, yaitu:
2.4.1 Faktor situasional karakteristik kelompok
Ukuran kelompok.
Hubungan antara ukuran kelompok dengan prestasi krja kelompok bergantung pada jenis tugas yang harus diselesaikan oleh kelompok. Tugas kelompok dapat dibedakan dua macam, yaitu tugas koaktif dan interaktif. Pada tugas koaktif, masing-masing anggota bekerja sejajar dengan yang lain, tetapi tidak berinteraksi. Pada tugas interaktif, anggota-anggota kelompok berinteraksi secara teroganisasi untuk menghasilkan suatu produk, keputusan, atau penilaian tunggal. Pada kelompok tugas koatif, jumlah anggota berkorelasi positif dengan pelaksanaan tugas. Yakni, makin banyak anggota makin besar jumlah pekerjaan yang diselesaikan. Misal satu orang dapat memindahkan tong minyak ke satu bak truk dalam 10 jam, maka sepuluh orang dapat memindahkan pekerjaan tersebut dalam satu jam. Tetapi, bila mereka sudah mulai berinteraksi, keluaran secara keseluruhan akan berkurang.
Faktor lain yang mempengaruhi hubungan antara prestasi dan ukuran kelompok adalah tujuan kelompok. Bila tujuan kelompok memelukan kegiatan konvergen (mencapai suatu pemecahan yang benar), hanya diperlukan kelompok kecil supaya produktif, terutama bila tugas yang dilakukan hanya membutuhkan sumber, keterampilan, dan kemampuan yang terbatas. Bila tugas memerlukan kegiatan yang divergen (seperti memhasilkan gagasan berbagai gagasan kreatif), diperlukan jumlah anggota kelompok yang lebih besar.
Dalam hubungan dengan kepuasan, Hare dan Slater (dalam Rakmat, 2004) menunjukkan bahwa makin besar ukuran kelompok makin berkurang kepuasan anggota-anggotanya. Slater menyarankan lima orang sebagai batas optimal untuk mengatasi masalah hubungan manusia. Kelompok yang lebih dari lima orang cenderung dianggap kacau, dan kegiatannya dianggap menghambur-hamburkan waktu oleh anggota-anggota kelompok.
Jaringan komunikasi.
Terdapat beberapa tipe jaringan komunikasi, diantaranya adalah sebagai berikut: roda, rantai, Y, lingkaran, dan bintang. Dalam hubungan dengan prestasi kelompok, tipe roda menghasilkan produk kelompok tercepat dan terorganisir.
Kohesi kelompok.
Kohesi kelompok didefinisikan sebagai kekuatan yang mendorong anggota kelompok untuk tetap tinggal dalam kelompok, dan mencegahnya meninggalkan kelompok. McDavid dan Harari (dalam Jalaluddin Rakmat, 2004) menyarankam bahwa kohesi diukur dari beberapa faktor sebagai berikut: ketertarikan anggota secara interpersonal pada satu sama lain; ketertarikan anggota pada kegiatan dan fungsi kelompok; sejauh mana anggota tertarik pada kelompok sebagai alat untuk memuaskan kebutuhan personal.
Kohesi kelompok erat hubungannya dengan kepuasan anggota kelompok, makin kohesif kelompok makin besar tingkat kepuasan anggota kelompok. Dalam kelompok yang kohesif, anggota merasa aman dan terlindungi, sehingga komunikasi menjadi bebas, lebih terbuka, dan lebih sering. Pada kelompok yang kohesifitasnya tinggi, para anggota terikat kuat dengan kelompoknya, maka mereka makin mudah melakukan konformitas. Makin kohesif kelompok, makin mudah anggota-anggotanya tunduk pada norma kelompok, dan makin tidak toleran pada anggota yang devian.
Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah komunikasi yang secara positif mempengaruhi kelompok untuk bergerak ke arah tujuan kelompok. Kepemimpinan adalah faktor yang paling menentukan kefektifan komunikasi kelompok. Klasifikasi gaya kepemimpinan yang klasik dilakukan oleh White danLippit (1960). Mereka mengklasifikasikan tiga gaya kepemimpinan: otoriter; demokratis; dan laissez faire. Kepemimpinan otoriter ditandai dengan keputusan dan kebijakan yang seluruhnya ditentukan oleh pemimpin. Kepemimpinan demokratis menampilkan pemimpin yang mendorong dan membantu anggota kelompok untuk membicarakan dan memutuskan semua kebijakan. Kepemimpinan laissez faire memberikan kebebasan penuh bagi kelompok untuk mengambil keputusan individual dengan partisipasi dengan partisipasi pemimpin yang minimal.

2.4.2 Faktor personal karakteristik kelompok
Kebutuhan interpersonal
William C. Schultz (1966) merumuskan Teori FIRO (Fundamental Interpersonal Relations Orientatation), menurutnya orang menjadi anggota kelompok karena didorong oleh tiga kebutuhan intepersonal sebagai berikut:
1) Ingin masuk menjadi bagian kelompok (inclusion).
2) Ingin mengendalikan orang lain dalam tatanan hierakis (control).
3) Ingin memperoleh keakraban emosional dari anggota kelompok yang lain.
Tindak komunikasi
Mana kala kelompok bertemu, terjadilah pertukaran informasi. Setiap anggota berusaha menyampaiakan atau menerima informasi (secara verbal maupun nonverbal). Robert Bales (1950) mengembangkan sistem kategori untuk menganalisis tindak komunikasi, yang kemudian dikenal sebagai Interaction Process Analysis (IPA).
Peranan
Seperti tindak komunikasi, peranan yang dimainkan oleh anggota kelompok dapat membantu penyelesaian tugas kelompok, memelihara suasana emosional yang lebih baik, atau hanya menampilkan kepentingan individu saja (yang tidak jarang menghambat kemajuan kelompok). Beal, Bohlen, dan audabaugh (dalam Rakhmat, 2004: 171) meyakini peranan-peranan anggota-anggota kelompok terkategorikan sebagai berikut:
1) Peranan Tugas Kelompok. Tugas kelompok adalah memecahkan masalah atau melahirkan gagasan-gagasan baru. Peranan tugas berhubungan dengan upaya memudahkan dan mengkoordinasi kegiatan yang menunjang tercapainya tujuan kelompok.
2) Peranan Pemiliharaan Kelompok. Pemeliharaan kelompok berkenaan dengan usaha-usaha untuk memelihara emosional anggota-anggota kelompok.
3) Peranan individual, berkenaan dengan usahan anggota kelompokuntuk memuaskan kebutuhan individual yang tidak relevan dengantugas kelompok.





2.5 Masalah dan Konflik dalam kelompok
        Masalah
Masalah adalah suatu kendala atau persoalan dalam sebuah kelompok yang harus dipecahkan dengan kata lain masalah ini merupakan kesenjangan antara kenyataan dengan suatu yang diharapkan dengan baik, agar tercapai tujuan dengan hasil yang maksimal.
Masalah dalam kelompok adalah sebagai berikut :
·         Deindividuasi adalah adalah suatu proses hilangnya kesadaran individu karena melebur di dalam kelompok atau bisa dikatakan sebagai pikiran kolektif. Deindividuasi (Diener : 1980), yaitu merupakan penggantian identitas pribadi oleh identitas kelompok. Mencakup atas hilangnya tanggung jawab pribadi dan meningkatnya kepekaan atas tindakan kelompok.
Festinger, Pepitone& newcomb, 1952
deindividuasi adalah keadaan hilangnya kesadaran akan diri sendiri (self awareness) dan pengertian evaluatif terhadap diri sendiri (evaluation apprehension) dalam situasi kelompok yang memungkinkan anonimitas dan mengalihkan atau menjauhkan perhatian dari individu
Jadi dapat dikatakan Deindividuasi itu adalah proses hilangnya kesadaran suatu individu karena pengaruh dari suatu kelompok dan membentuk suatu pemikiran kolektif.
Deindividuasi yaitu : Melonggarnya hambatan Normal terhadap perilaku jika orang-orang tidak dapat diidentifikasikan.
Hal-hal yang sangat mungkin diakibatkan dari Deindividuasi:
ü  Deindividuasi dapat mengakibatkan perilaku yang impulsive dan menyimpang
ü  perilaku agresifnyapun tidak terkendali yang sangat mungkin menyebabkan adanya anarkis atau mampu menyakiti orang lain walaupun tidak selalu terjadi hal seperti itu.
ü  Rasa tanggung jawab yang berkurang.
ü  Perilaku yang terus menerus dipengaruhi oleh nilai-nilai / value.
ü  Konformitas atau perubahan perilaku akibat pengaruh dari orang lain juga semakin tinggi
·        




·         Groupthink menurut Irvings Janis (1972) adalah istilah untuk keadaan ketika sebuah kelompok membuat keputusan yang tidak masuk akal untuk menolak anggapan/ opini publik yang sudah nyata buktinya, dan memiliki nilai moral. Keputusan kelompok ini datang dari beberapa individu berpengaruh dalam kelompok yang irrasional tapi berhasil mempengaruhi kelompok menjadi keputusan kelompok. Groupthink mempengaruhi kelompok dengan melakukan aksi-aksi yang tidak masuk akal dan tidak mempedulikan pendapat-pendapat yang bertentangan diluar kelompok. Kelompok yang terkena sindrom groupthink biasanya adalah kelompok yang anggota-anggotanya memiliki background yang sama, terasing (tidak menyatu, terisolir) dari pendapat-pendapat luar, dan tidak ada aturan yang jelas tentang proses pengambilan keputusan.
2.5.1 Teori Pemikiran Kelompok (groupthink)
lahir dari penelitian panjang Irvin L Janis. Janis menggunakan istilah groupthink untuk menunjukkan satu mode berpikir sekelompok orang yang sifat kohesif (terpadu), ketika usaha-usaha keras yang dilakukan anggota-anggota kelompok untuk mencapai kata mufakat. Untuk mencapai kebulatan suara klompok ini mengesampingkan motivasinya untuk menilai alternatif-alternatif tindakan secara realistis. Groupthink dapat didefinisikan sebagai suatu situasi dalam proses pengambilan keputusan yang menunjukkan timbulnya kemerosotan efesiensi mental, pengujian realitas, dan penilaian moral yang disebabkan oleh tekanan-tekanan kelompok (Mulyana, 1999).
West dan Turner (2008: 274) mendefinisikan bahwa pemikiran kelompok (groupthink) sebagai suatu cara pertimbangan yang digunakan anggota kelompok ketika keinginan mereka akan kesepakatan melampaui motivasi mereka untuk menilai semua rencana tindakan yang ada. Jadi groupthink merupakan proses pengambilan keputusan yang terjadi pada kelompok yang sangat kohesif, dimana anggota-anggota berusaha mempertahankan konsensus kelompok sehingga kemampuan kritisnya tidak efektif lagi.
Anggota-anggota kelompok sering kali terlibat di dalam sebuah gaya pertimbangan dimana pencarian konsensus lebih diutamakan dibandingkan dengan pertimbangan akal sehat. Anda mungkin pernah berpartisipasi di dalam sebuah kelompok dimana keinginan untuk mencapai satu tujuan atau tugas lebih penting daripada menghasilkan pemecahan masalah yang masuk akal. Kelompok yang memiliki kemiripan antaranggotanya dan memiliki hubungan baik satu sama lain, cenderung gagal menyadari akan adanya pendapat yang berlawanan. Mereka menekan konflik hanya agar mereka dapat bergaul dengan baik, atau ketika anggota kelompok tidak sepenuhnya mempertimbangkan semua solusi yang ada, mereka rentan dalam groupthink.
Dari sini, groupthink meninggalkan cara berpikir individu dan menekankan pada proses kelompok. Sehingga pengkajian atas fenomena kelompok lebih spesifik terletak pada proses pembuatan keputusan yang kurang baik, serta besar kemungkinannya akan menghasilkan keputusan yang buruk dengan akibat yang sangat merugikan kelompok. Janis juga menegaskan bahwa kelompok yang sangat kompak  dimungkinkan karena terlalu banyak menyimpan energi untuk memelihara niat baik dalam kelompok ini, sehingga mengorbankan proses keputusan yang baik dari proses tersebut. adapun proses dalam pembuatan keputusan dalam kelompok, secara umum dapat digambarkan sebagai berikut:
Esensi Teori
Groupthink merupakan teori yang diasosiasikan dengan komunikasi kelompok kecil. Lahirnya konsep groupthink didorong oleh kajian secara mendalam mengenai komunikasi kelompok yang telah dikembangkan oleh Raimond Cattel (Santoso & Setiansah, 2010:66). Melalui penelitiannya, ia memfokuskannya pada keperibadian kelompok sebagai tahap awal. Teori yang dibangun menunjukkan bahwa terdapat pola-pola tetap dari perilaku kelompok yang dapat diprediksi, yaitu:
1.      Sifat-sifat dari kepribadian kelompok
2.      Struktural internal hubungan antar anggota
3.      Sifat keanggotaan kelompok.
Temuan teoritis tersebut masih belum mampu memberikan jawaban atas suatu pertanyaan yang berkaitan dengan pengaruh hubungan antar pribadi dalam kelompok. Hal inilah yang memunculkan suatu hipotesis dari Janis untuk menguji beberapa kasus terperinci yang ikut memfasilitasi keputusan-keputusan yang dibuat kelompok.
Hasil pengujian yang dilakukan Janis menunjukkan bahwa terdapat suatu kondisi yang mengarah pada munculnya kepuasan kelompok yang baik. Asumsi penting dari groupthink, sebagaimana dikemukakan Turner dan West (2008: 276) adalah:
1.      Terdapat kondisi-kondisi di dalam kelompok yang mempromosikan kohesivitas tinggi.
2.      Pemecahan masalah kelompok pada intinya merupakan proses yang menyatu
3.      Kelompok dan pengambilan keputusan oleh kelompok sering kali bersifat kompleks
Perhatikan kisah di awal, upaya kelompok belajar membangun kohesivitas berimplikasi pada pengabaian pendapat personal yang bisa jadi pendapatnya lebih rasional. Kohesivitas ini dibangun atas semangat perjuangan bersama, semangat pengabdian melalui sebuah lembaga nonpemerintah.
Ilustrasi Janis selanjutnya mengungkapkan kondisi nyata suatu kelompok yang dihinggapi oleh pikiran kelompok, yaitu dengan menunjukkan delapan gejala perilaku kelompok sebagai berikut:
1.      Persepsi yang keliru (illusions), bahwa ada keyakinan kalau kelompok tidak akan terkalahkan.
2.      Rasionalitas kolektif, dengan cara membenarkan hal-hal yang salah sebagai seakan-akan masuk akal.
3.      Percaya pada moralitas terpendam yang ada dalam diri kelompok.
4.      Streotip terhadap kelompok lain (menganggap buruk kelompok lain).
5.      Tekanan langsung pada anggota yang pendapatnya berbeda dari pendapat kelompok.
6.      Sensor diri sendiri terhadap penyimpangan dari sensus kelompok.
7.      Ilusi bahwa semua anggota kelompok sepakat dan bersuara bulat.
8.      Otomatis menjaga mental untuk mencegah atau menyaring informasi-informasi yang tidak mendukung, hal ini dilakukan oleh para penjaga pikiran kelompok (mindguards). 
Berdasarkan gejala-gejala yang ada, umumnya kelompok yang memiliki semangkin banyak gejala yang ada ia akan semakin tidak baik. Para anggota kelompok akan memberikan penilaian yang berlebihan terhadap kelompoknya seperti kelompoknyalah yang paling benar. Selain itu kelompok pemikiran individu akan tertutup oleh pemikiran kelompok. Ketika suatu kelompok memiliki pikiran yang tertutup, kelompok ini tidak akan mengindahkan pengaruh-pengaruh dari keluar kelompok. Akan selalu ada tekanan untuk mencapai keseragaman, adanya ilusi bahwa akan adanya kebulatan suara meskipun pada dasarnya ada di antara kelompok yang tidak mendukung. Untuk mengatasi gejala-gejala pemikiran kelompok seperti itu adalah dengan lebih banyak berpikir sebelum bertindak. Banyak contoh kasus peristiwa komunikasi yang bisa dilihat dari teori ini diantaranya adalah: ngototnya kepengurusan PSSI yang dipimpin oleh Nurdin Halid untuk tidak mau mundur dari PSSI. Kelompok pendukungnya akan selalu memiliki argumen-argumen yang selalu dilandasi oleh pemikiran kelompok.


2.5.2 Teori Analisis Proses Interaksi
Teori analisis proses interaksi yaitu teori yang mengarah pada sejenis pesan yang disampaikan orang dalam kelompok dan bagaimana pesan itu bisa memengaruhi peran dan kepribadian kelompok.[1]
Analisis proses interaksi oleh Robert Bales, dengan menggunakan penelitian bertahun-tahunnya sebagai sebuah fondasi, Bales menciptakan sebuah teori terpadu dan dikembangkan dengan baik dari komunikasi kelompok kecil yang bertujuan unutuk menjelaskan jenis pesan yang manusia tukar dalam kelompok, dari semua yang membentuk peran dan kepribadian anggota kelompok, dan cara mereka mempengaruhi semua karakter secara umum pada sebuah kelompok.
Dalam kelompok, setiap individu dapat memperlihatkan sikap positif atau negatif. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap individu dapat menanyakan informasi, memberi informasi, meminta dan memberi saran, serta menanyakan dan memberi opini.[2]
Menurut Bales, analisis proses interaksi terdiri atas enam kategori yaitu:
a.       Jika masing-masing anggota kelompok tidak saling memberikan cukup informasi, maka kelompok bersangkutan akan mengalami “masalah komunikasi”.
b.      Jika masing-masing anggota kelompok tidak saling cukup memberikan pendapat maka kelompok bersangkutan akan mengalami “masalah evaluasi
c.       Jika masing-masing anggota kelompok tidak saling bertanya dan memberikan saran, maka kelompok akan mengalami “masalah pengawasan”.
d.      Jika masing-masing anggota kelompok tidak bisa mencapai kesepakatan maka mereka akan mendapatkan “masalah keputusan”
e.       Jika tidak cukup dramatisasi maka akan muncul “masalah ketegangan”.
f.       Jika anggota kelompok tidak ramah dan bersahabat maka akan terdapat “masalah reintegrasi”.
Teori Bales ini mencakup dua kelompok atau dua kelas perilaku komunikasi umum. Dalam penyelidikan pemimpin, Bales menemukan bahwa kelompok yang sama akan memiliki dua jenis pemimpin yang berbeda yaitu “pemimpin pekerjaan dan pemimpin sosioemosional”.[3]
Bales telah memberikan sumbangan penting dalam karir kesarjanaannya bagi perkembangan sistem ketegori Analisis Proses Interaksi (API) untuk menganalisis interaksi terbuka antar anggota-anggota kelompok.
Analisis proses interaksi dari bales adalah sistem keseimbangan (equilibrium). Semua unsur-unsur berada dalam keadaan seimbang. Terdapat jumlah yang sama kategori tugas dan kategori sosio-emosional, dan dua kategori tersebut dibagi sama dalam unsur positif dan unsur negatifnya. Selain itu penelitian menunjukan bahwa kelompok yang terlibat dalam kegiatan komunikasi yang berkaitan dengan tugas selama satu tahapan sidang, cenderung mempertahankan keseimbangan mereka. Hal ini dilakukan dengan cara meluangkan waktu yang lebih lama pada kegiatan sosio-emosional dalam tahapan sidang berikut, dan begitu pula sebaliknya. Kelompok-kelompok juga cenderung mengikuti suatu fase peningkatan berdasarkan waktu, dengan bergerak dari penekanan yang semula pada kegiatan komunikasi yang berkaitan dengan orientasi menuju kegiatan yang berkaitan dengan penilaian dan berakhir dengan kegiatan yang berkaitan dengan pengendalian.[4]

2.5.3 Teori Sosiometris
Sosiometris dapat diartikan sebagai pendekatan teoritis dan metodologis terhadap kelompok-kelompok yang diciptakan mula-mula oleh Moreno dan kemudian dikembangkan oleh Jennings dan yang lain. Pada dasarnya teori ini berhubungan dengan “daya tarik” (attraction) dan penolakan (repulsions) yang dirasakan oleh individu-individu terhadap satu sama lain serta implikasi perasaan-perasaan ini bagi pembentukan dan struktur kelompok. Suatu uji-coba sosiometris sering kali diterapkan pada anggota-anggota kelompok untuk menentukan struktur sosiometris suatu kelompok. Uji coba pada umumnya mencakup pertanyaan-pertanyaan yang meminta anggota-anggota kelompok untuk saling menentukan peringkat mereka berdasarkan efektifitas dalam melaksanakan tugas dan daya tarik antar pribadi. Suatu analisis terhadap uji-coba memberikan gambaran tentang berbagai konfigurasi sosial atau struktur yang telah dikembangkan oleh anggota kelompok.
Meskipun sosiometris tidak langsung berkepentingan dengan komunikasi, struktur sosiometris dari suatu kelompok tidak dapat disangkal berhubungan dengan beberapa hal yang terkadi dalam komunikasi kelompok. Nampaknya cukup masuk akal untuk menganggap bahwa individu-individu yang merasa tertarik satu sama lain dan yang saling menempatkan diri pada peringkat yang tinggi, akan lebih suka berkomunikasi sedemikian rupa sehingga membedakan mereka dari berkomunikasi anggota-anggota kelompok yang saling membenci. Bagaimanapun juga, hubungan yang khusus yang terdapat antara komunikasi kelompok dan struktur sosiometris kelompok masih perlu ditentukan.[5]
Jadi, sosiometri merupakan sebuah konsepsi psikologis yang mengacu pada suatu pendekatan metodologis dan teoritis terhadap kelompok. Asumsi yang dimunculkan adalah bahwa individu-individu dalam kelompok yang merasa tertarik satu sama lain, akan lebih banyak melakukan tindak komunikasi, sebaliknya individu-individu yang saling menolak, hanya sedikit atau kurang melaksanakan tindak komunikasi. Tataran atraksi atau ketertarikan dan penolakan (repulsion) dapat diukur melalui alat tes sosiometri, di mana setiap anggota ditanyakan untuk memberi jenjang atau ranking terhadap anggota-anggota lainnya dalam kerangka ketertarikan antarpribadi (interpersonal attractiveness) dan keefektifan tugas (task effectiveness). Dengan menganalisis struktur kelompok yang padu dan produktif yang mungkin terjadi.[6]
Suatu kelompok memiliki kekuatan tidak hanya untuk membangkitkan para anggotanya, namun juga untuk membuat mereka menjadi tidak dapat diidentifikasikan.[7] Dalam contoh semisal ada segerombolan orang melakukan pembunuhan, pada segerombolan yang lebih besar banyak anggotanya dan kehilangan jatidirinya menjadi berkeinginan untuk melakukan kekejaman. Dalam kasus ini, seseorang tidak didasarkan pada diri mereka sendiri, semua dapat mengacu perilaku individu karena adanyan pengaruh kelompok.
Dengan adanya kondisi yang tidak diinginkan pada individu, ada dalam diri yang namanya pertahanan ego. Pertahanan ego yaitu mengacaukan realitas diluar maupun dalam diri. Dengan adanya pertahanan ego akan memunculkan represi; yaitu memasukan hal-hal yang tidak menyenangkan dari dalam kesadaran, ke dalam ketidaksadaran. Misal seperti kasus di atas mengenai segerombolan yang melakukan pembunuhan. Oleh karena itu, represi dapat menimbulkan pertahanan ego yang lain seperti pengalihan.[8]
2.5.4 ANALISIS
Dari pembahasan di atas, relevansi dengan jurusan yaitu:
Langsung contoh dalam kasus di suatu perusahaan, dalam sebuah perusahaan pastinya ada pemimpin dan ada yang dipimpin. Dalam organisasi ini, haruslah terjalin hubungan yang baik diantara keduannya agar bisa mencapai tujuan bersama. Dalam analisis proses interaksi, sebuah organisasi kelompok dalam mengembangkan bisnisnya dibutuhkan kerjasama dan keterbukaan. Contoh: dalam suatu kelompok organisasi, salah seorang memberikan pendapatnya untuk meningkatkan mutu semangat kerja para kinerja untuk melakukan suatu tujuan bersama, sedang yang lain saling punya pendapat sendiri-sendiri dan sehingga menimbulkan banyak perdebatan dan konflik. Kelompok tidak akan mampu membuat keputusan dalam kondisi seperti ini. Kemudian kelompok tersebut tidak ada yang memberikan saran, maka yang terjadi dalam kelompok tersebut tidak ada kesatuan. Apalagi dalam kelompok tersebut tidak memiliki sikap santai dan muncullah ketegangan dalam kondisi tersebut. Maka dibutuhkan salah seorang- pemimpin- untuk bisa mengarahkan agar bertindak positif, seperti memberi kesepakatan dan dramatisasi yang dibutuhkan dalam hal ini. Dramatisasi berarti melepaskan ketegangan dengan cara menyampaikan cerita dan pengalaman tidak perlu selalu sehubungan dengan masalah kelompok yang bersangkutan. Salah seorang bisa memberikan solusi atau bercerita tentang hal yang terbaik untuk kelompok mereka agar komunikasi dalam kelompok dapat berjalan baik.
Dalam teori sosiometris, relevansi terhadap jurusan yaitu; teori ini lebih menekankan pada komunikasi antara “daya tarik dan penolakan”. Contohnya; apabila individu merasa tertarik dengan individu lain maka komunikasi diantara keduannya akan berjalan baik dan lancar, dan mereka akan lebih suka berkomunikasi dibandingkan dengan mereka harus berkomunikasi dengan anggota kelompok lainnya yang saling membenci.
Dengan adanya daya tarik antar kelompok, biasanya akan terjadi komunikasi dan kerjasama yang baik. Kelompok tersebut akan lebih senang berinteraksi. Dan sebaliknya, apabila antar individu atau kelompok saling menolak, kerjasama diantara kedua kelompok renggang dan kurang baik. Begitu juga kerjasama tidak akan terselesaikan dengan lancar.
komunikasi. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa teori sosimetri mencari tahu siapa yang disukai atau tidak disukai orang-orang, dan dengan siapa mereka akan atau tidak akan bersedia bekerja sama.
Jadi suatu kelompok sangat berpengaruh pada identitas seorang individu, mereka akan merasa kuat dan menjadi bukan diri sendiri karena dipengaruhi oleh kelompok dimana mereka berada. Komunikasi yang dilakukan pun berbeda antara individu yang merasa tertarik dengan individu lainnya dan antara individu yang yang saling menolak sehingga menimbulkan kurang komunikasi.
         
Konflik
Menurut kamus besar bahasa Indonesia konflik adalah percekcokkan, perselisihan, pertentangan. Konflik berasal dari kata kerja bahasa latin yaitu configure yang berarti saling memukul. Secara Sosiologis konflik diartikan sebagai proses social antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya. [1]
Kondisi dimana tujuan kelompok tidak sesuai dengan fakta pencapaiaan kelompok tersebut.
2.5.5 Penyebab masalah
1.      Berbagai sumber daya yang langka
Karena sumber daya yang dimiliki organisasi terbatas / langka maka perlu dialokasikan. Dalam alokasi sumber daya tersebut suatu kelompok mungkin menerima kurang dari kelompok yang lain. Hal ini dapat menjadi sumber konflik.
2.      Perbedaan dalam tujuan
Dalam suatu organisasi biasanya terdiri dari atas berbagai macam bagian yang bisa mempunyai tujuan yang berbeda-beda. Perbedaan tujuan dari berbagai bagian ini kalau kurang adanya koordinasi dapat menimbulkan adanya konflik. Sebagai contoh : bagian penjualan mungkin ingin meningkatkan valume penjualan dengan memberikan persyaratan-persyaratan pembelian yang lunak, seperti kredit dengan bunga rendah, jangka waktu yang lebih lama, seleksi calon pembeli yang tidak terlalu ketat dan sebagainya. Upaya yang dilakukan oleh bagian penjualan semacam ini mungkin akan mengakibatkan peningkatan jumlah piutang dalam tingkat yang cukup tinggi. Apabila hal ini dipandang dari sudut keuangan, mungkin tidak dikehendaki karena akan memerlukan tambahan dana yang cukup besar.
3.   Saling ketergantungan dalam menjalankan pekerjaan
Organisasi merupakan gabungan dari berbagai bagian yang saling berinteraksi. Akibatnya kegiatan satu pihak mungkin dapat merugikan pihak lain. Dan ini merupakan sumber konflik pula. Sebagai contoh : bagian akademik telah membuat jadwal ujian beserta pengawanya, setapi bagian tata usaha terlambat menyampaikan surat pemberitahuan kepada para pengawas dan penguji sehingga mengakibatkan terganggunya pelaksanaan ujian.
4.   Perbedaan dalam nilai atau persepsi
Perbedaan dalam tujuan biasanya dibarengi dengan perbedaan dalam sikap, nilai dan persepsi yang bisa mengarah ke timbulnya konflik. Sebagai contoh : seorang pimpinan muda mungkin merasa tidak senang sewaktu diberi tugas-tugas rutin karena dianggap kurang menantang kreativitasnya untuk berkembang, sementara pimpinan yang lebih senior merasa bahwa tugas-tugas rutin tersebut merupakan bagian dari pelatihan.
5.   Sebab-sebab lain
Selain sebab-sebab di atas, sebab-sebab lain yang mungkin dapat menimbulkan konflik dalam organisasi misalnya gaya seseorang dalam bekerja, ketidak jelasan organisasi dan masalah-masalah komunikasi.
6.   Penyelesaian masalah
Pemecahan masalah adalah proses penanggulangan suatu rintangan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Proses penyelesaian masalah terdiri dari identifikasi masalah, analisis masalah,penilaian pemecahan, pemilihan dan pelaksanaan solusi masalah yang terbaik.
Pendekatan pemecahan masalah secara sistematis disebut berpikir bijaksana. Proses berpikir bijaksana dibagi menjadi 2 tahap; pendeskripsian masalah dan pemecahan masalah.
Definisi masalah digunakan agar semua anggota kelompok memiliki pengertian yang sama tentang tujuan rapat, yang akan menciptakan produktivitas dan kepuasan.















.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
·                     manusia mempunyai kecenderungan untuk berkumpul, seperti Mahasiswa yang selalu ada kecenderungan untuk berkumpul di dalam Organisasi Mahasiswa, Team Atletik, HMJ dan kelompok lainnya.
·                     Peranan yang timbal balik, tujuan bersama, kepuasan didalam Organisasi, struktur jaringan, komunikasi Pemimpin dan anggota yang dapat mempengaruhi dan merubah perilaku.
·                     Itulah yang menjadi Kohesi kelompok yang memberikan kekuatan yang memelihara dan menjaga anggota dalam kelompok. Dalam hal komunikasi kelompok ini lbih jauh  dipertanyakan: kepada siapa mereka suka bekerja, berlibur, menghadiri pertemuan dan sebagainya.
·                     Oleh karena itu kohesi peranannya adalah nyata, dari suatu hubungan, memperkuat hubungan.
·                     Kelompok sangat ditentukan dimana dia berada : misalnya lingkungan tempat kerja dan profesinya. Dan tentunya dari segi kejiwaan manusia maka emosionalnya akan terjaga dan disesuaikan dengan asfek ruang dan waktu, benar karena kelompok menjadi bagian identitas seseorang.
B.     Saran
            Semoga makalah ini dapat membantu kita dalam memahami kelompok dan kebersamaan kita dalam kelompok.










DAFTAR PUSTAKA

http:/jurnalapapun.com Goldberg,  Alvin.KOMUNIKASI KELOMPOK.
http:/belajarilmukomunikasi.com James S. Taylor,” A Study of Group Discussion in Selected American Colleges and Universities,” Southern Speech Journal 33 (1967); hal. 113-118 diterjemahkan Koesdarini Soemiati dan Gary R. Jusuf. Ahmadi, Abu.PSIKOLOGI SOSIAL.
http://hafizhafsah.blogspot.com/2013/05/makalah-perkuliahan-komunikasi-antar.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar