MAKALAH KOMUNIKASI KELOMPOK
DI AJUKAN UNTUK MEMENUHI
TUGAS UAS MATA KULIAH
KOMUNIKASI KELOMPOK
Oleh:
1.
Gilang
Ramadhan_E1A. 06.00162
2.
Alif
Faturahman Nurifki_E1A.14.057
3.
Eka Elawati_E1A.14.0558
4.
Deni
Suhendi_E1A.14.0562
5.
Cucu
Mulyati_ E1A.14.0561
PROGRAM
STUDI ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU KOMUNIMASI
UNIVERSITAS SUBANG
SUBANG
2017
KATA
PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam,atas segala
rahmat dan karunianya kami dapat menyelesaikan makalah tentang “Komunikasi Kelompok” shalawat serta salam
semoga senantiasa tetap tercuraha kepada junjungan kita nabi,pemabawa risalah
kebenaran yaitu Muhammad SAW.
Tujuan penulisan makalah ini untuk menyelesaikan Tugas
UAS mata kuliah Komunikasi Kelompok yang
diberikan Dosen Pembimbing. Selain itu juga untuk meningkatkan pemahaman kami
terhadap materi Komunikasi Kelompok. Kami telah berusaha sesuai dengan kemampuan, namun kami
yakin bahwa manusia itu tidak ada yang sempurna. Seandainya dalam penulisan
makalah ini ada yang kurang, maka itulah bagian dari kelemahan kami.
Mudah-mudahan melalui kelemahan itu yang akan membawa kesadaran kami akan
kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Oleh sebab itu, kritik dan saran yang
konstruktif sangat diharapkan dari pembaca. Dan berharap semoga makalah ini
dapat bermanfa’at. Amin
Subang,20 Januari 2017
Penyusun
DAFTAR ISI
halaman
KATA PENGANTAR....................................................................................................... i
DAFTAR ISI...................................................................................................................... ii
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang .........................................................................................................1
1.2 Rumusan
Masalah.................................................................................................... 2
1.3 Tujuan.......................................................................................................................2
2.1 Pengertian
Komunikasi Kelompok...........................................................................
3
2.2 Klasifikasi
dan Karakteristik Kelompok...................................................................
4
2.2.1 Kelompok
Primer dan Sekunder......................................................................4
2.2.2 Kelompok
Keanggotaan dan Kelompok Rujukan........................................... 5
2.2.3 Kelompok
Deskriptif dan Kelompok Perspektif.............................................. 5
2.3 Pengaruh Kelompok Pada Prilaku Komunikasi.............................................................. 6
2.3.1 Konformitas.................................................................................................... 6
2.3.2 Fasilitasi Sosial................................................................................................ 6
2.3.3 Polarisasi......................................................................................................... 6
2.4 Faktor yang Mempengaruhi Keefektifan Kelompok..................................................... 7
2.4.1 Faktor Situasional Karakteristik Kelompok..................................................... 7
2.4.2 Faktor Personal Karakteristik Kelompok......................................................... 9
2.5 Masalah dan Konflik dalam Kelompok......................................................................... 10
2.5.1 Pemikiran Kelompok (group think).................................................................. 11
2.5.2 Teori Analisis Proses Interaksi......................................................................... 14
2.5.3 Teori Sosiometris............................................................................................ 15
2.5.4 Analisis........................................................................................................... 16
2.5.5 Penyebab Masalah.......................................................................................... 18
BAB III. PENUTUP
3 Kesimpulan................................................................................................................. 20
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.Latar Belakang
Dalam kehidupan bersosial, kita sebagai
manusia tidak dapat untuk tidak berkomunikasi “We can’t not
communicate”. Sama hal nya pada saat kita berkelompok. Komunikasi
seakan menjadi ruh dalam jasad sebuah kelompok. Salah satu faktor penting yang
dapat mempengaruhi sukses atau gagalnya suatu kelompok/komunitas bergantung
pada komunikasinya. Seberapa intens dan efektif suatu komunikasi dapat
dibangun. Dalam komunikasi kelompok kita harus mengetahui pengertian, sifat,
klasifikasi dan lain-lain yang termasuk kedalam unsur-unsur komunikasi kelompok.
Saat ini, banyak permasalahan yang
terjadi di kalangan sebuah kelompok dan inti masalahnya adalah kurangnya
komunikasi. Permasalahan komunikasi yang terjadi pun tak hanya intern saja tapi
juga eksternalnya. Oleh karena itu penulis akan memaparkan hal tersebut.
Berdasarkan permasalahan di atas,
Maka dari itu, penulis mencari informasi dan menyusun makalah mengenai materi
komunikasi kelompok ini yang mudah-mudahan bisa menambahkan wawasan kita
mengenai salah satu dari bentuk komunikasi ini. Hal ini pun merupakan salah
satu upaya pemenuhan tugas mata kuliah Teori Komunikasi.
1.2 Rumusan masalah
Agar penulisan makalah ini tersusun
secara sistematis dan terarah, maka rumusan masalah yang akan dibahas dalam
makalah ini adalah sebagai berikut :
1.Apa yang dimaksud dengan Komunikasi Kelompok ?
2.Apa saja Klasifikasi
Kelompok dan Karakteristik Komunikasinya ?
3.Bagaimana Pengaruh Kelompok pada Perilaku
Komunikasi ?
4.Apa saja Faktor-faktor yang mempengaruhi
keefektifan kelompok
1.3 Tujuan
Semua aktifitas yang dilakukan
tentunya harus mempunyai tujuan yang jelas, sehingga diharapkan akan memperoleh
hasil yang maksimal dan tentu saja dalam proses di dalamnya pun membutuhkan
langkah-langkah konkret yang sistematis. Adapun tujuan penulisan makalah ini
secara detail adalah sebagai berikut :
1.Mengetahui arti Komunikasi Kelompok
2.Mengetahui Klasifikasi
Kelompok dan Karakteristik Komunikasinya
3.Mengetahui Pengaruh Kelompok pada Perilaku
Komunikasi
4.Mengetahui Faktor-faktor yang mempengaruhi
keefektifan kelompok
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Komunikasi Kelompok.
Kelompok adalah
sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain
untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka
sebagai bagian dari kelompok tersebut (Deddy Mulyana, 2005). Kelompok ini
misalnya adalah keluarga, kelompok diskusi, kelompok pemecahan masalah, atau
suatu komite yang tengah berapat untuk mengambil suatu keputusan. Dalam
komunikasi kelompok, juga melibatkan komunikasi antarpribadi. Karena itu
kebanyakan teori komunikasi antarpribadi berlaku juga bagi komunikasi kelompok.
Komunikasi
kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu
kelompok “kecil” seperti dalam rapat, pertemuan, konperensi dan sebagainya
(Anwar Arifin, 1984). Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005) mendefinisikan
komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau
lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga
diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat
karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. Kedua definisi
komunikasi kelompok di atas mempunyai kesamaan, yakni adanya komunikasi tatap
muka, peserta komunikasi lebih dari dua orang, dan memiliki susunan rencana
kerja tertentu untuk mencapai tujuan kelompok.
Dan B. Curtis,
James J.Floyd, dan Jerril L. Winsor (2005, h. 149) menyatakan komunikasi
kelompok terjani ketika tiga orang atau lebih bertatap muka, biasanya di bawah
pengarahan seorang pemimpin untuk mencapai tujuan atau sasaran bersama dan
mempengaruhi satu sama lain. Lebih mendalam ketiga ilmuwan tersebut menjabarkan
sifat-sifat komunikasi kelompok sebagai berikut:
1. Kelompok
berkomunikasi melalui tatap muka;
2. Kelompok
memiliki sedikit partisipan;
3. Kelompok
bekerja di bawah arahan seseorang pemimpin;
4. Kelompok
membagi tujuan atau sasaran bersama;
5. Anggota
kelompok memiliki pengaruh atas satu sama lain.
2.2 Klasifikasi Kelompok dan
Karakteristik Komunikasi
Telah banyak
klasifikasi kelompok yang dilahirkan oleh para ilmuwan sosiologi, namun dalam
kesempatan ini kita sampaikan hanya tiga klasifikasi kelompok.
Karakteristik
kelompok
1. Terdiri dari dua orang atau lebih
yang berinteraksi secara verbal atau nonverbal
2. Individu dalam kelompok harus
mempunyai pengaruh terhadap anggota yang lain
3. Mempunyai tujuan dan minat yang sama
4. Setiapa anggota saling mengenal dan
dapat membedakan orang-orang yng tidak termasuk dalam kelompok.
2.2.1
Kelompok primer dan sekunder.
Charles Horton Cooley pada tahun 1909 (dalam Jalaluddin
Rakhmat, 1994) mengatakan bahwa kelompok primer adalah suatu kelompok yang
anggota-anggotanya berhubungan akrab, personal, dan menyentuh hati dalam
asosiasi dan kerja sama. Sedangkan kelompok sekunder adalah kelompok
yang anggota-anggotanya berhubungan tidak akrab, tidak personal, dan tidak
menyentuh hati kita.
Jalaludin Rakhmat membedakan kelompok
ini berdasarkan karakteristik komunikasinya, sebagai berikut:
1. Kualitas komunikasi
pada kelompok primer bersifat dalam dan meluas. Dalam, artinya menembus
kepribadian kita yang paling tersembunyi, menyingkap unsur-unsur backstage (perilaku
yang kita tampakkan dalam suasana privat saja). Meluas, artinya sedikit sekali
kendala yang menentukan rentangan dan cara berkomunikasi. Pada kelompok
sekunder komunikasi bersifat dangkal dan terbatas.
2. Komunikasi pada
kelompok primer bersifat personal, sedangkan kelompok sekunder nonpersonal.
3. Komunikasi
kelompok primer lebih menekankan aspek hubungan daripada aspek isi, sedangkan
kelompok sekunder adalah sebaliknya.
4. Komunikasi
kelompok primer cenderung ekspresif, sedangkan kelompok sekunder instrumental.
5. Komunikasi
kelompok primer cenderung informal, sedangkan kelompok sekunder formal.
2.2.2
Kelompok keanggotaan
dan kelompok rujukan.
Theodore Newcomb (1930) melahirkan
istilah kelompok keanggotaan (membership group) dan kelompok rujukan (reference
group). Kelompok keanggotaan adalah kelompok yang anggota-anggotanya secara
administratif dan fisik menjadi anggota kelompok itu. Sedangkan kelompok
rujukan adalah kelompok yang digunakan sebagai alat ukur (standard) untuk
menilai diri sendiri atau untuk membentuk sikap.
Menurut teori,
kelompok rujukan mempunyai tiga fungsi: fungsi komparatif, fungsi normatif, dan
fungsi perspektif. Saya menjadikan Islam sebagai kelompok rujukan saya, untuk
mengukur dan menilai keadaan dan status saya sekarang (fungsi komparatif. Islam
juga memberikan kepada saya norma-norma dan sejumlah sikap yang harus saya
miliki-kerangka rujukan untuk membimbing perilaku saya, sekaligus menunjukkan
apa yang harus saya capai (fungsi normatif). Selain itu, Islam juga memberikan
kepada saya cara memandang dunia ini-cara mendefinisikan situasi,
mengorganisasikan pengalaman, dan memberikan makna pada berbagai objek,
peristiwa, dan orang yang saya temui (fungsi perspektif). Namun Islam bukan
satu-satunya kelompok rujukan saya. Dalam bidang ilmu, Ikatan Sarjana
Komunikasi Indonesia (ISKI) adalah kelompok rujukan saya, di samping menjadi
kelompok keanggotaan saya. Apapun kelompok rujukan itu, perilaku saya sangat
dipengaruhi, termasuk perilaku saya dalam berkomunikasi.
2.2.3 Kelompok
deskriptif dan kelompok persfektif
John F. Cragan dan David W. Wright
(1980) membagi kelompok menjadi dua: deskriptif dan peskriptif. Kategori
deskriptif menunjukkan klasifikasi kelompok dengan melihat proses
pembentukannya secara alamiah. Berdasarkan tujuan, ukuran, dan pola komunikasi,
kelompok deskriptif dibedakan menjadi tiga: a. kelompok tugas; b.
kelompok pertemuan; dan c. kelompok penyadar. Kelompok tugas
bertujuan memecahkan masalah, misalnya transplantasi jantung, atau merancang
kampanye politik. Kelompok pertemuan adalah kelompok orang yang menjadikan diri
mereka sebagai acara pokok. Melalui diskusi, setiap anggota berusaha belajar
lebih banyak tentang dirinya. Kelompok terapi di rumah sakit jiwa adalah contoh
kelompok pertemuan. Kelompok penyadar mempunyai tugas utama
menciptakan identitas sosial politik yang baru. Kelompok revolusioner radikal;
(di AS) pada tahun 1960-an menggunakan proses ini dengan cukup banyak.
Kelompok preskriptif, mengacu pada
langkah-langkah yang harus ditempuh anggota kelompok dalam mencapai tujuan
kelompok. Cragan dan Wright mengkategorikan enam format kelompok preskriptif,
yaitu: diskusi meja bundar, simposium, diskusi panel, forum, kolokium, dan
prosedur parlementer.
2.3 Pengaruh Kelompok pada Prilaku
Komunikasi
2.3.1 Konformitas
Konformitas
adalah perubahan perilaku atau kepercayaan menuju (norma) kelompok sebagai
akibat tekanan kelompok-yang real atau dibayangkan. Bila sejumlah orang dalam
kelompok mengatakan atau melakukan sesuatu, ada kecenderungan para anggota
untuk mengatakan dan melakukan hal yang sama. Jadi, kalau anda merencanakan
untuk menjadi ketua kelompok,aturlah rekan-rekan anda untuk menyebar dalam
kelompok. Ketika anda meminta persetujuan anggota, usahakan rekan-rekan anda
secara persetujuan mereka. Tumbuhkan seakan-akan seluruh anggota kelompok sudah
setuju. Besar kemungkinan anggota-anggota berikutnya untuk setuju juga.
2.3.2 Fasilitasi sosial
Fasilitasi
(dari kata Prancis facile, artinya mudah) menunjukkan kelancaran
atau peningkatan kualitas kerja karena ditonton kelompok. Kelompok mempengaruhi
pekerjaan sehingga menjadi lebih mudah. Robert Zajonz (1965) menjelaskan bahwa
kehadiran orang lain-dianggap-menimbulkan efek pembangkit energi pada perilaku
individu. Efek ini terjadi pada berbagai situasi sosial, bukan hanya didepan
orang yang menggairahkan kita. Energi yang meningkat akan mempertingi
kemungkinan dikeluarkannya respon yang dominan. Respon dominan adalah perilaku
yang kita kuasai. Bila respon yang dominan itu adalah yang benar, terjadi
peningkatan prestasi. Bila respon dominan itu adalah yang salah, terjadi
penurunan prestasi. Untuk pekerjaan yang mudah, respon yang dominan adalah
respon yang banar; karena itu, peneliti-peneliti melihat melihat kelompok
mempertinggi kualitas kerja individu.
2.3.3 Polarisasi
Polarisasi
adalah kecenderungan ke arah posisi yang ekstrem. Bila sebelum diskusi kelompok
para anggota mempunyai sikap agak mendukung tindakan tertentu, setelah diskusi
mereka akan lebih kuat lagi mendukung tindakan itu. Sebaliknya, bila sebelum
diskusi para anggota kelompok agak menentang tindakan tertentu, setelah diskusi
mereka akan menentang lebih keras.
2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi
keefektifan kelompok
Anggota-anggota
kelompok bekerja sama untuk mencapai dua tujuan: a. melaksanakan
tugas kelompok, dan b. memelihara moral anggota-anggotanya. Tujuan
pertama diukur dari hasil kerja kelompok-disebut prestasi (performance)
tujuan kedua diketahui dari tingkat kepuasan (satisfacation). Jadi, bila
kelompok dimaksudkan untuk saling berbagi informasi (misalnya kelompok
belajar), maka keefektifannya dapat dilihat dari beberapa banyak informasi yang
diperoleh anggota kelompok dan sejauh mana anggota dapat memuaskan kebutuhannya
dalam kegiatan kelompok.
Jalaluddin
Rakhmat (2004) meyakini bahwa faktor-faktor keefektifan kelompok dapat dilacak
pada karakteristik kelompok, yaitu:
2.4.1 Faktor situasional karakteristik
kelompok
Ukuran kelompok.
Hubungan antara
ukuran kelompok dengan prestasi krja kelompok bergantung pada jenis tugas yang
harus diselesaikan oleh kelompok. Tugas kelompok dapat dibedakan dua macam,
yaitu tugas koaktif dan interaktif. Pada tugas koaktif, masing-masing anggota
bekerja sejajar dengan yang lain, tetapi tidak berinteraksi. Pada tugas
interaktif, anggota-anggota kelompok berinteraksi secara teroganisasi untuk
menghasilkan suatu produk, keputusan, atau penilaian tunggal. Pada kelompok
tugas koatif, jumlah anggota berkorelasi positif dengan pelaksanaan tugas.
Yakni, makin banyak anggota makin besar jumlah pekerjaan yang diselesaikan.
Misal satu orang dapat memindahkan tong minyak ke satu bak truk dalam 10 jam,
maka sepuluh orang dapat memindahkan pekerjaan tersebut dalam satu jam.
Tetapi, bila mereka sudah mulai berinteraksi, keluaran secara keseluruhan akan
berkurang.
Faktor lain yang mempengaruhi hubungan
antara prestasi dan ukuran kelompok adalah tujuan kelompok. Bila tujuan
kelompok memelukan kegiatan konvergen (mencapai suatu pemecahan yang benar),
hanya diperlukan kelompok kecil supaya produktif, terutama bila tugas yang
dilakukan hanya membutuhkan sumber, keterampilan, dan kemampuan yang terbatas.
Bila tugas memerlukan kegiatan yang divergen (seperti memhasilkan gagasan
berbagai gagasan kreatif), diperlukan jumlah anggota kelompok yang lebih besar.
Dalam hubungan dengan kepuasan, Hare
dan Slater (dalam Rakmat, 2004) menunjukkan bahwa makin besar ukuran kelompok
makin berkurang kepuasan anggota-anggotanya. Slater menyarankan lima orang
sebagai batas optimal untuk mengatasi masalah hubungan manusia. Kelompok yang
lebih dari lima orang cenderung dianggap kacau, dan kegiatannya dianggap
menghambur-hamburkan waktu oleh anggota-anggota kelompok.
Jaringan
komunikasi.
Terdapat
beberapa tipe jaringan komunikasi, diantaranya adalah sebagai berikut: roda,
rantai, Y, lingkaran, dan bintang. Dalam hubungan dengan prestasi kelompok,
tipe roda menghasilkan produk kelompok tercepat dan terorganisir.
Kohesi kelompok.
Kohesi kelompok
didefinisikan sebagai kekuatan yang mendorong anggota kelompok untuk tetap
tinggal dalam kelompok, dan mencegahnya meninggalkan kelompok. McDavid dan
Harari (dalam Jalaluddin Rakmat, 2004) menyarankam bahwa kohesi diukur dari
beberapa faktor sebagai berikut: ketertarikan anggota secara interpersonal pada
satu sama lain; ketertarikan anggota pada kegiatan dan fungsi kelompok; sejauh
mana anggota tertarik pada kelompok sebagai alat untuk memuaskan kebutuhan
personal.
Kohesi kelompok erat hubungannya dengan
kepuasan anggota kelompok, makin kohesif kelompok makin besar tingkat kepuasan
anggota kelompok. Dalam kelompok yang kohesif, anggota merasa aman dan
terlindungi, sehingga komunikasi menjadi bebas, lebih terbuka, dan lebih sering.
Pada kelompok yang kohesifitasnya tinggi, para anggota terikat kuat dengan
kelompoknya, maka mereka makin mudah melakukan konformitas. Makin kohesif
kelompok, makin mudah anggota-anggotanya tunduk pada norma kelompok, dan makin
tidak toleran pada anggota yang devian.
Kepemimpinan
Kepemimpinan
adalah komunikasi yang secara positif mempengaruhi kelompok untuk bergerak ke
arah tujuan kelompok. Kepemimpinan adalah faktor yang paling menentukan
kefektifan komunikasi kelompok. Klasifikasi gaya kepemimpinan yang klasik
dilakukan oleh White danLippit (1960). Mereka mengklasifikasikan tiga gaya
kepemimpinan: otoriter; demokratis; dan laissez faire. Kepemimpinan
otoriter ditandai dengan keputusan dan kebijakan yang seluruhnya ditentukan
oleh pemimpin. Kepemimpinan demokratis menampilkan pemimpin yang mendorong dan
membantu anggota kelompok untuk membicarakan dan memutuskan semua kebijakan.
Kepemimpinan laissez faire memberikan kebebasan penuh bagi kelompok untuk
mengambil keputusan individual dengan partisipasi dengan partisipasi pemimpin
yang minimal.
2.4.2 Faktor personal karakteristik kelompok
Kebutuhan
interpersonal
William C.
Schultz (1966) merumuskan Teori FIRO (Fundamental Interpersonal Relations
Orientatation), menurutnya orang menjadi anggota kelompok karena didorong oleh
tiga kebutuhan intepersonal sebagai berikut:
1) Ingin masuk menjadi bagian
kelompok (inclusion).
2) Ingin mengendalikan orang lain
dalam tatanan hierakis (control).
3) Ingin memperoleh keakraban
emosional dari anggota kelompok yang lain.
Tindak
komunikasi
Mana kala
kelompok bertemu, terjadilah pertukaran informasi. Setiap anggota berusaha
menyampaiakan atau menerima informasi (secara verbal maupun nonverbal). Robert
Bales (1950) mengembangkan sistem kategori untuk menganalisis tindak komunikasi,
yang kemudian dikenal sebagai Interaction Process Analysis (IPA).
Peranan
Seperti tindak
komunikasi, peranan yang dimainkan oleh anggota kelompok dapat membantu
penyelesaian tugas kelompok, memelihara suasana emosional yang lebih baik, atau
hanya menampilkan kepentingan individu saja (yang tidak jarang menghambat
kemajuan kelompok). Beal, Bohlen, dan audabaugh (dalam Rakhmat, 2004: 171)
meyakini peranan-peranan anggota-anggota kelompok terkategorikan sebagai
berikut:
1) Peranan Tugas Kelompok. Tugas
kelompok adalah memecahkan masalah atau melahirkan gagasan-gagasan baru.
Peranan tugas berhubungan dengan upaya memudahkan dan mengkoordinasi kegiatan
yang menunjang tercapainya tujuan kelompok.
2) Peranan Pemiliharaan Kelompok.
Pemeliharaan kelompok berkenaan dengan usaha-usaha untuk memelihara emosional
anggota-anggota kelompok.
3) Peranan individual, berkenaan
dengan usahan anggota kelompokuntuk memuaskan kebutuhan individual yang tidak
relevan dengantugas kelompok.
2.5 Masalah dan Konflik dalam kelompok
Masalah
Masalah adalah suatu kendala atau
persoalan dalam sebuah kelompok yang harus dipecahkan dengan kata lain masalah ini
merupakan kesenjangan antara kenyataan dengan suatu yang diharapkan dengan
baik, agar tercapai tujuan dengan hasil yang maksimal.
Masalah dalam kelompok adalah
sebagai berikut :
·
Deindividuasi adalah adalah suatu proses hilangnya kesadaran
individu karena melebur di dalam kelompok atau bisa dikatakan sebagai pikiran
kolektif. Deindividuasi (Diener : 1980), yaitu merupakan
penggantian identitas pribadi oleh identitas kelompok. Mencakup atas hilangnya
tanggung jawab pribadi dan meningkatnya kepekaan atas tindakan kelompok.
Festinger,
Pepitone& newcomb, 1952
deindividuasi adalah keadaan hilangnya kesadaran akan diri sendiri (self awareness) dan pengertian evaluatif terhadap diri sendiri (evaluation apprehension) dalam situasi kelompok yang memungkinkan anonimitas dan mengalihkan atau menjauhkan perhatian dari individu
deindividuasi adalah keadaan hilangnya kesadaran akan diri sendiri (self awareness) dan pengertian evaluatif terhadap diri sendiri (evaluation apprehension) dalam situasi kelompok yang memungkinkan anonimitas dan mengalihkan atau menjauhkan perhatian dari individu
Jadi dapat dikatakan Deindividuasi
itu adalah proses hilangnya kesadaran suatu individu karena pengaruh dari suatu
kelompok dan membentuk suatu pemikiran kolektif.
Deindividuasi yaitu : Melonggarnya hambatan Normal terhadap
perilaku jika orang-orang tidak dapat diidentifikasikan.
Hal-hal yang sangat mungkin diakibatkan dari Deindividuasi:
ü Deindividuasi dapat mengakibatkan
perilaku yang impulsive dan menyimpang
ü perilaku agresifnyapun tidak
terkendali yang sangat mungkin menyebabkan adanya anarkis atau mampu menyakiti
orang lain walaupun tidak selalu terjadi hal seperti itu.
ü Rasa tanggung jawab yang berkurang.
ü Perilaku yang terus menerus
dipengaruhi oleh nilai-nilai / value.
ü Konformitas atau perubahan perilaku
akibat pengaruh dari orang lain juga semakin tinggi
·
·
Groupthink menurut Irvings Janis (1972)
adalah istilah untuk keadaan ketika sebuah kelompok membuat keputusan yang
tidak masuk akal untuk menolak anggapan/ opini publik yang sudah nyata
buktinya, dan memiliki nilai moral. Keputusan kelompok ini datang dari beberapa
individu berpengaruh dalam kelompok yang irrasional tapi berhasil mempengaruhi
kelompok menjadi keputusan kelompok. Groupthink mempengaruhi kelompok dengan
melakukan aksi-aksi yang tidak masuk akal dan tidak mempedulikan
pendapat-pendapat yang bertentangan diluar kelompok. Kelompok yang terkena
sindrom groupthink biasanya adalah kelompok yang anggota-anggotanya memiliki
background yang sama, terasing (tidak menyatu, terisolir) dari
pendapat-pendapat luar, dan tidak ada aturan yang jelas tentang proses
pengambilan keputusan.
2.5.1
Teori Pemikiran Kelompok (groupthink)
lahir dari penelitian panjang Irvin
L Janis. Janis menggunakan istilah groupthink untuk
menunjukkan satu mode berpikir sekelompok orang yang sifat kohesif (terpadu),
ketika usaha-usaha keras yang dilakukan anggota-anggota kelompok untuk
mencapai kata mufakat. Untuk mencapai kebulatan suara klompok ini
mengesampingkan motivasinya untuk menilai alternatif-alternatif tindakan secara
realistis. Groupthink dapat didefinisikan sebagai suatu situasi dalam proses
pengambilan keputusan yang menunjukkan timbulnya kemerosotan efesiensi mental,
pengujian realitas, dan penilaian moral yang disebabkan oleh tekanan-tekanan
kelompok (Mulyana, 1999).
West dan Turner (2008: 274) mendefinisikan bahwa pemikiran
kelompok (groupthink) sebagai suatu cara pertimbangan yang
digunakan anggota kelompok ketika keinginan mereka akan kesepakatan melampaui
motivasi mereka untuk menilai semua rencana tindakan yang ada. Jadi groupthink merupakan
proses pengambilan keputusan yang terjadi pada kelompok yang sangat kohesif,
dimana anggota-anggota berusaha mempertahankan konsensus kelompok sehingga
kemampuan kritisnya tidak efektif lagi.
Anggota-anggota kelompok sering
kali terlibat di dalam sebuah gaya pertimbangan dimana pencarian konsensus
lebih diutamakan dibandingkan dengan pertimbangan akal sehat. Anda mungkin
pernah berpartisipasi di dalam sebuah kelompok dimana keinginan untuk mencapai
satu tujuan atau tugas lebih penting daripada menghasilkan pemecahan masalah
yang masuk akal. Kelompok yang memiliki kemiripan antaranggotanya dan memiliki
hubungan baik satu sama lain, cenderung gagal menyadari akan adanya pendapat
yang berlawanan. Mereka menekan konflik hanya agar mereka dapat bergaul dengan
baik, atau ketika anggota kelompok tidak sepenuhnya mempertimbangkan semua
solusi yang ada, mereka rentan dalam groupthink.
Dari sini, groupthink meninggalkan cara
berpikir individu dan menekankan pada proses kelompok. Sehingga pengkajian atas
fenomena kelompok lebih spesifik terletak pada proses pembuatan keputusan yang
kurang baik, serta besar kemungkinannya akan menghasilkan keputusan yang buruk
dengan akibat yang sangat merugikan kelompok. Janis juga menegaskan bahwa
kelompok yang sangat kompak dimungkinkan karena terlalu banyak menyimpan
energi untuk memelihara niat baik dalam kelompok ini, sehingga mengorbankan
proses keputusan yang baik dari proses tersebut. adapun proses dalam pembuatan
keputusan dalam kelompok, secara umum dapat digambarkan sebagai berikut:
Esensi Teori
Groupthink merupakan teori yang diasosiasikan
dengan komunikasi kelompok kecil. Lahirnya konsep groupthink didorong
oleh kajian secara mendalam mengenai komunikasi kelompok yang telah
dikembangkan oleh Raimond Cattel (Santoso & Setiansah, 2010:66). Melalui
penelitiannya, ia memfokuskannya pada keperibadian kelompok sebagai tahap awal.
Teori yang dibangun menunjukkan bahwa terdapat pola-pola tetap dari perilaku
kelompok yang dapat diprediksi, yaitu:
1. Sifat-sifat dari
kepribadian kelompok
2. Struktural internal
hubungan antar anggota
3. Sifat keanggotaan kelompok.
Temuan teoritis tersebut masih belum mampu memberikan
jawaban atas suatu pertanyaan yang berkaitan dengan pengaruh hubungan antar
pribadi dalam kelompok. Hal inilah yang memunculkan suatu hipotesis dari Janis
untuk menguji beberapa kasus terperinci yang ikut memfasilitasi
keputusan-keputusan yang dibuat kelompok.
Hasil pengujian yang dilakukan Janis menunjukkan bahwa
terdapat suatu kondisi yang mengarah pada munculnya kepuasan kelompok yang
baik. Asumsi penting dari groupthink, sebagaimana dikemukakan
Turner dan West (2008: 276) adalah:
1. Terdapat kondisi-kondisi di
dalam kelompok yang mempromosikan kohesivitas tinggi.
2. Pemecahan masalah
kelompok pada intinya merupakan proses yang menyatu
3. Kelompok dan pengambilan
keputusan oleh kelompok sering kali bersifat kompleks
Perhatikan kisah di awal, upaya kelompok
belajar membangun kohesivitas berimplikasi pada pengabaian pendapat personal
yang bisa jadi pendapatnya lebih rasional. Kohesivitas ini dibangun atas
semangat perjuangan bersama, semangat pengabdian melalui sebuah lembaga
nonpemerintah.
Ilustrasi Janis selanjutnya mengungkapkan kondisi nyata
suatu kelompok yang dihinggapi oleh pikiran kelompok, yaitu dengan
menunjukkan delapan gejala perilaku kelompok sebagai berikut:
1. Persepsi yang keliru (illusions),
bahwa ada keyakinan kalau kelompok tidak akan terkalahkan.
2. Rasionalitas kolektif,
dengan cara membenarkan hal-hal yang salah sebagai seakan-akan masuk akal.
3. Percaya pada moralitas
terpendam yang ada dalam diri kelompok.
4. Streotip terhadap
kelompok lain (menganggap buruk kelompok lain).
5. Tekanan langsung pada
anggota yang pendapatnya berbeda dari pendapat kelompok.
6. Sensor diri sendiri
terhadap penyimpangan dari sensus kelompok.
7. Ilusi bahwa semua anggota
kelompok sepakat dan bersuara bulat.
8. Otomatis menjaga mental
untuk mencegah atau menyaring informasi-informasi yang tidak mendukung, hal ini
dilakukan oleh para penjaga pikiran kelompok (mindguards).
Berdasarkan gejala-gejala yang ada,
umumnya kelompok yang memiliki semangkin banyak gejala yang ada ia akan
semakin tidak baik. Para anggota kelompok akan memberikan penilaian yang
berlebihan terhadap kelompoknya seperti kelompoknyalah yang paling benar.
Selain itu kelompok pemikiran individu akan tertutup oleh pemikiran kelompok.
Ketika suatu kelompok memiliki pikiran yang tertutup, kelompok ini tidak akan
mengindahkan pengaruh-pengaruh dari keluar kelompok. Akan selalu ada tekanan
untuk mencapai keseragaman, adanya ilusi bahwa akan adanya kebulatan suara
meskipun pada dasarnya ada di antara kelompok yang tidak mendukung. Untuk
mengatasi gejala-gejala pemikiran kelompok seperti itu adalah dengan lebih
banyak berpikir sebelum bertindak. Banyak contoh kasus peristiwa komunikasi
yang bisa dilihat dari teori ini diantaranya adalah: ngototnya kepengurusan
PSSI yang dipimpin oleh Nurdin Halid untuk tidak mau mundur dari PSSI. Kelompok
pendukungnya akan selalu memiliki argumen-argumen yang selalu dilandasi oleh
pemikiran kelompok.
2.5.2 Teori Analisis Proses Interaksi
Teori analisis proses interaksi yaitu teori yang mengarah
pada sejenis pesan yang disampaikan orang dalam kelompok dan bagaimana pesan
itu bisa memengaruhi peran dan kepribadian kelompok.[1]
Analisis proses interaksi oleh Robert Bales, dengan
menggunakan penelitian bertahun-tahunnya sebagai sebuah fondasi, Bales
menciptakan sebuah teori terpadu dan dikembangkan dengan baik dari komunikasi
kelompok kecil yang bertujuan unutuk menjelaskan jenis pesan yang manusia tukar
dalam kelompok, dari semua yang membentuk peran dan kepribadian anggota
kelompok, dan cara mereka mempengaruhi semua karakter secara umum pada sebuah
kelompok.
Dalam kelompok, setiap individu dapat memperlihatkan sikap
positif atau negatif. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap individu dapat
menanyakan informasi, memberi informasi, meminta dan memberi saran, serta
menanyakan dan memberi opini.[2]
Menurut Bales, analisis proses interaksi terdiri atas enam
kategori yaitu:
a. Jika masing-masing anggota kelompok
tidak saling memberikan cukup informasi, maka kelompok bersangkutan akan
mengalami “masalah komunikasi”.
b. Jika masing-masing anggota kelompok
tidak saling cukup memberikan pendapat maka kelompok bersangkutan akan
mengalami “masalah evaluasi
c. Jika masing-masing anggota kelompok
tidak saling bertanya dan memberikan saran, maka kelompok akan mengalami
“masalah pengawasan”.
d. Jika masing-masing anggota kelompok
tidak bisa mencapai kesepakatan maka mereka akan mendapatkan “masalah
keputusan”
e. Jika tidak cukup dramatisasi maka
akan muncul “masalah ketegangan”.
f. Jika anggota kelompok tidak ramah
dan bersahabat maka akan terdapat “masalah reintegrasi”.
Teori Bales ini mencakup dua kelompok atau dua kelas
perilaku komunikasi umum. Dalam penyelidikan pemimpin, Bales menemukan bahwa
kelompok yang sama akan memiliki dua jenis pemimpin yang berbeda yaitu
“pemimpin pekerjaan dan pemimpin sosioemosional”.[3]
Bales telah memberikan sumbangan penting dalam karir
kesarjanaannya bagi perkembangan sistem ketegori Analisis Proses Interaksi
(API) untuk menganalisis interaksi terbuka antar anggota-anggota kelompok.
Analisis proses interaksi dari bales adalah sistem
keseimbangan (equilibrium). Semua unsur-unsur berada dalam keadaan seimbang.
Terdapat jumlah yang sama kategori tugas dan kategori sosio-emosional, dan dua
kategori tersebut dibagi sama dalam unsur positif dan unsur negatifnya. Selain
itu penelitian menunjukan bahwa kelompok yang terlibat dalam kegiatan
komunikasi yang berkaitan dengan tugas selama satu tahapan sidang, cenderung
mempertahankan keseimbangan mereka. Hal ini dilakukan dengan cara meluangkan
waktu yang lebih lama pada kegiatan sosio-emosional dalam tahapan sidang berikut,
dan begitu pula sebaliknya. Kelompok-kelompok juga cenderung mengikuti suatu
fase peningkatan berdasarkan waktu, dengan bergerak dari penekanan yang semula
pada kegiatan komunikasi yang berkaitan dengan orientasi menuju kegiatan yang
berkaitan dengan penilaian dan berakhir dengan kegiatan yang berkaitan dengan
pengendalian.[4]
2.5.3 Teori Sosiometris
Sosiometris dapat diartikan sebagai pendekatan teoritis dan metodologis
terhadap kelompok-kelompok yang diciptakan mula-mula oleh Moreno dan kemudian
dikembangkan oleh Jennings dan yang lain. Pada dasarnya teori ini berhubungan
dengan “daya tarik” (attraction) dan penolakan (repulsions) yang
dirasakan oleh individu-individu terhadap satu sama lain serta implikasi
perasaan-perasaan ini bagi pembentukan dan struktur kelompok. Suatu uji-coba
sosiometris sering kali diterapkan pada anggota-anggota kelompok untuk
menentukan struktur sosiometris suatu kelompok. Uji coba pada umumnya mencakup
pertanyaan-pertanyaan yang meminta anggota-anggota kelompok untuk saling
menentukan peringkat mereka berdasarkan efektifitas dalam melaksanakan tugas
dan daya tarik antar pribadi. Suatu analisis terhadap uji-coba memberikan
gambaran tentang berbagai konfigurasi sosial atau struktur yang telah
dikembangkan oleh anggota kelompok.
Meskipun sosiometris tidak langsung berkepentingan dengan
komunikasi, struktur sosiometris dari suatu kelompok tidak dapat disangkal
berhubungan dengan beberapa hal yang terkadi dalam komunikasi kelompok.
Nampaknya cukup masuk akal untuk menganggap bahwa individu-individu yang merasa
tertarik satu sama lain dan yang saling menempatkan diri pada peringkat yang
tinggi, akan lebih suka berkomunikasi sedemikian rupa sehingga membedakan
mereka dari berkomunikasi anggota-anggota kelompok yang saling membenci.
Bagaimanapun juga, hubungan yang khusus yang terdapat antara komunikasi
kelompok dan struktur sosiometris kelompok masih perlu ditentukan.[5]
Jadi, sosiometri merupakan sebuah konsepsi psikologis yang
mengacu pada suatu pendekatan metodologis dan teoritis terhadap kelompok.
Asumsi yang dimunculkan adalah bahwa individu-individu dalam kelompok yang
merasa tertarik satu sama lain, akan lebih banyak melakukan tindak komunikasi,
sebaliknya individu-individu yang saling menolak, hanya sedikit atau kurang
melaksanakan tindak komunikasi. Tataran atraksi atau ketertarikan dan penolakan
(repulsion) dapat diukur melalui alat tes sosiometri, di mana setiap anggota
ditanyakan untuk memberi jenjang atau ranking terhadap anggota-anggota lainnya
dalam kerangka ketertarikan antarpribadi (interpersonal attractiveness) dan
keefektifan tugas (task effectiveness). Dengan menganalisis struktur kelompok
yang padu dan produktif yang mungkin terjadi.[6]
Suatu kelompok memiliki kekuatan tidak hanya untuk membangkitkan
para anggotanya, namun juga untuk membuat mereka menjadi tidak dapat
diidentifikasikan.[7] Dalam
contoh semisal ada segerombolan orang melakukan pembunuhan, pada segerombolan
yang lebih besar banyak anggotanya dan kehilangan jatidirinya menjadi
berkeinginan untuk melakukan kekejaman. Dalam kasus ini, seseorang tidak
didasarkan pada diri mereka sendiri, semua dapat mengacu perilaku individu
karena adanyan pengaruh kelompok.
Dengan adanya kondisi yang tidak diinginkan pada individu,
ada dalam diri yang namanya pertahanan ego. Pertahanan ego yaitu mengacaukan
realitas diluar maupun dalam diri. Dengan adanya pertahanan ego akan
memunculkan represi; yaitu memasukan hal-hal yang tidak menyenangkan dari dalam
kesadaran, ke dalam ketidaksadaran. Misal seperti kasus di atas mengenai
segerombolan yang melakukan pembunuhan. Oleh karena itu, represi dapat
menimbulkan pertahanan ego yang lain seperti pengalihan.[8]
2.5.4 ANALISIS
Dari pembahasan di atas, relevansi dengan jurusan yaitu:
Langsung contoh dalam kasus di suatu perusahaan, dalam
sebuah perusahaan pastinya ada pemimpin dan ada yang dipimpin. Dalam organisasi
ini, haruslah terjalin hubungan yang baik diantara keduannya agar bisa mencapai
tujuan bersama. Dalam analisis proses interaksi, sebuah organisasi kelompok
dalam mengembangkan bisnisnya dibutuhkan kerjasama dan keterbukaan. Contoh:
dalam suatu kelompok organisasi, salah seorang memberikan pendapatnya untuk
meningkatkan mutu semangat kerja para kinerja untuk melakukan suatu tujuan
bersama, sedang yang lain saling punya pendapat sendiri-sendiri dan sehingga
menimbulkan banyak perdebatan dan konflik. Kelompok tidak akan mampu membuat
keputusan dalam kondisi seperti ini. Kemudian kelompok tersebut tidak ada yang
memberikan saran, maka yang terjadi dalam kelompok tersebut tidak ada kesatuan.
Apalagi dalam kelompok tersebut tidak memiliki sikap santai dan muncullah
ketegangan dalam kondisi tersebut. Maka dibutuhkan salah seorang- pemimpin-
untuk bisa mengarahkan agar bertindak positif, seperti memberi kesepakatan dan
dramatisasi yang dibutuhkan dalam hal ini. Dramatisasi berarti melepaskan
ketegangan dengan cara menyampaikan cerita dan pengalaman tidak perlu selalu
sehubungan dengan masalah kelompok yang bersangkutan. Salah seorang bisa
memberikan solusi atau bercerita tentang hal yang terbaik untuk kelompok mereka
agar komunikasi dalam kelompok dapat berjalan baik.
Dalam teori sosiometris, relevansi terhadap jurusan yaitu;
teori ini lebih menekankan pada komunikasi antara “daya tarik dan penolakan”.
Contohnya; apabila individu merasa tertarik dengan individu lain maka komunikasi
diantara keduannya akan berjalan baik dan lancar, dan mereka akan lebih suka
berkomunikasi dibandingkan dengan mereka harus berkomunikasi dengan anggota
kelompok lainnya yang saling membenci.
Dengan adanya daya tarik antar kelompok, biasanya akan terjadi
komunikasi dan kerjasama yang baik. Kelompok tersebut akan lebih senang
berinteraksi. Dan sebaliknya, apabila antar individu atau kelompok saling
menolak, kerjasama diantara kedua kelompok renggang dan kurang baik. Begitu
juga kerjasama tidak akan terselesaikan dengan lancar.
komunikasi. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa teori
sosimetri mencari tahu siapa yang disukai atau tidak disukai orang-orang, dan
dengan siapa mereka akan atau tidak akan bersedia bekerja sama.
Jadi suatu kelompok sangat berpengaruh pada identitas
seorang individu, mereka akan merasa kuat dan menjadi bukan diri sendiri karena
dipengaruhi oleh kelompok dimana mereka berada. Komunikasi yang dilakukan pun
berbeda antara individu yang merasa tertarik dengan individu lainnya dan antara
individu yang yang saling menolak sehingga menimbulkan kurang komunikasi.
Konflik
Menurut kamus besar bahasa Indonesia
konflik adalah percekcokkan, perselisihan, pertentangan. Konflik berasal dari
kata kerja bahasa latin yaitu configure yang berarti saling memukul. Secara
Sosiologis konflik diartikan sebagai proses social antara dua orang atau lebih
(bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain
dengan menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya. [1]
Kondisi dimana tujuan kelompok tidak
sesuai dengan fakta pencapaiaan kelompok tersebut.
2.5.5 Penyebab masalah
1. Berbagai
sumber daya yang langka
Karena
sumber daya yang dimiliki organisasi terbatas / langka maka perlu dialokasikan.
Dalam alokasi sumber daya tersebut suatu kelompok mungkin menerima kurang dari
kelompok yang lain. Hal ini dapat menjadi sumber konflik.
2. Perbedaan
dalam tujuan
Dalam suatu
organisasi biasanya terdiri dari atas berbagai macam bagian yang bisa mempunyai
tujuan yang berbeda-beda. Perbedaan tujuan dari berbagai bagian ini kalau
kurang adanya koordinasi dapat menimbulkan adanya konflik. Sebagai contoh :
bagian penjualan mungkin ingin meningkatkan valume penjualan dengan memberikan
persyaratan-persyaratan pembelian yang lunak, seperti kredit dengan bunga
rendah, jangka waktu yang lebih lama, seleksi calon pembeli yang tidak terlalu
ketat dan sebagainya. Upaya yang dilakukan oleh bagian penjualan semacam ini
mungkin akan mengakibatkan peningkatan jumlah piutang dalam tingkat yang cukup
tinggi. Apabila hal ini dipandang dari sudut keuangan, mungkin tidak
dikehendaki karena akan memerlukan tambahan dana yang cukup besar.
3. Saling
ketergantungan dalam menjalankan pekerjaan
Organisasi
merupakan gabungan dari berbagai bagian yang saling berinteraksi. Akibatnya
kegiatan satu pihak mungkin dapat merugikan pihak lain. Dan ini merupakan
sumber konflik pula. Sebagai contoh : bagian akademik telah membuat jadwal
ujian beserta pengawanya, setapi bagian tata usaha terlambat menyampaikan surat
pemberitahuan kepada para pengawas dan penguji sehingga mengakibatkan
terganggunya pelaksanaan ujian.
4. Perbedaan dalam
nilai atau persepsi
Perbedaan
dalam tujuan biasanya dibarengi dengan perbedaan dalam sikap, nilai dan
persepsi yang bisa mengarah ke timbulnya konflik. Sebagai contoh : seorang
pimpinan muda mungkin merasa tidak senang sewaktu diberi tugas-tugas rutin
karena dianggap kurang menantang kreativitasnya untuk berkembang, sementara
pimpinan yang lebih senior merasa bahwa tugas-tugas rutin tersebut merupakan
bagian dari pelatihan.
5. Sebab-sebab
lain
Selain
sebab-sebab di atas, sebab-sebab lain yang mungkin dapat menimbulkan konflik
dalam organisasi misalnya gaya seseorang dalam bekerja, ketidak jelasan
organisasi dan masalah-masalah komunikasi.
6. Penyelesaian
masalah
Pemecahan
masalah adalah proses penanggulangan suatu rintangan untuk mencapai tujuan yang
diinginkan. Proses penyelesaian masalah terdiri dari identifikasi masalah,
analisis masalah,penilaian pemecahan, pemilihan dan pelaksanaan solusi masalah
yang terbaik.
Pendekatan
pemecahan masalah secara sistematis disebut berpikir bijaksana. Proses berpikir
bijaksana dibagi menjadi 2 tahap; pendeskripsian masalah dan pemecahan masalah.
Definisi
masalah digunakan agar semua anggota kelompok memiliki pengertian yang sama
tentang tujuan rapat, yang akan menciptakan produktivitas dan kepuasan.
.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
·
manusia
mempunyai kecenderungan untuk berkumpul, seperti Mahasiswa yang selalu ada
kecenderungan untuk berkumpul di dalam Organisasi Mahasiswa, Team Atletik, HMJ
dan kelompok lainnya.
·
Peranan
yang timbal balik, tujuan bersama, kepuasan didalam Organisasi, struktur
jaringan, komunikasi Pemimpin dan anggota yang dapat mempengaruhi dan merubah
perilaku.
·
Itulah
yang menjadi Kohesi kelompok yang memberikan kekuatan yang memelihara dan
menjaga anggota dalam kelompok. Dalam hal komunikasi kelompok ini lbih
jauh dipertanyakan: kepada siapa mereka suka bekerja, berlibur,
menghadiri pertemuan dan sebagainya.
·
Oleh
karena itu kohesi peranannya adalah nyata, dari suatu hubungan, memperkuat
hubungan.
·
Kelompok
sangat ditentukan dimana dia berada : misalnya lingkungan tempat kerja dan
profesinya. Dan tentunya dari segi kejiwaan manusia maka emosionalnya akan
terjaga dan disesuaikan dengan asfek ruang dan waktu, benar karena kelompok
menjadi bagian identitas seseorang.
B. Saran
Semoga
makalah ini dapat membantu kita dalam memahami kelompok dan kebersamaan kita
dalam kelompok.
DAFTAR PUSTAKA
http:/jurnalapapun.com Goldberg, Alvin.KOMUNIKASI
KELOMPOK.
http:/belajarilmukomunikasi.com James S. Taylor,” A Study of
Group Discussion in Selected American Colleges and Universities,” Southern
Speech Journal 33 (1967); hal. 113-118 diterjemahkan Koesdarini Soemiati dan
Gary R. Jusuf. Ahmadi, Abu.PSIKOLOGI SOSIAL.
http://hafizhafsah.blogspot.com/2013/05/makalah-perkuliahan-komunikasi-antar.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar