KOMUNIKASI POLITIK DAN OPINI PUBLIK
MAKALAH
INI DI AJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH OPINI PUBLIK
DOSEN PEMBIMBING :
Akhmad Basuni, S.Ag., M.Si
Disusun oleh :
Gilang Ramadhan_E1A.14.0559
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS SUBANG
2016
KATA
PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
atas limpahan berkatnya saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Komunikasi
Politik Dan Opini Publik” dapat diselesaikan dengan baik dan lancar. Shalawat
senantiasa kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah
membawa manusia dari zaman jahiliyyah ke zaman islamiyah.
Tujuan penulisan makalah ini untuk
menyelesaikan Tugas mata kuliah Opini Publik yang diberikan Dosen Pembimbing.
Selain itu juga untuk meningkatkan pemahaman saya terhadap materi Opini
Publik. Saya telah berusaha sesuai dengan kemampuan,
namun saya yakin bahwa manusia itu tidak ada yang sempurna. Seandainya dalam
penulisan makalah ini ada yang kurang, maka itulah bagian dari kelemahan saya.
Mudah-mudahan melalui kelemahan itu yang akan membawa kesadaran saya akan
kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Oleh sebab itu, kritik dan saran yang
konstruktif sangat diharapkan dari pembaca. Dan berharap semoga makalah ini
dapat bermanfa’at. Amin.
Subang, 6 Januari 2017
Gilang Ramadhan
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Komunikasi adalah salah
satu bentuk kegiatan umat manusia yang paling penting. Tiada hari tanpa
komunikasi. Tidak ada masyarakat manusia yang tidak melaksanakan komunikasi,
karena komunikasi adalah perlambang dari adanya kehidupan di dalam masyarakat.
Dilihat dari sudut pandang ini, komunikasi dilihat dari artinya yang umum dan
luas yaitu hubungan dan interaksi yang terjadi antara dua orang\pihak atau
lebih. Interaksi tersebut terjadi karena seseorang menyampaikan pesan-pesan
dalam bentuk tertentu yang diterima pihak lain yang menjadi sasarannya sehingga
sedikit banyak akan mempengaruhi sikap dan tingkah laku pihak dimaksud.
Siapapun sebagai anggota masyarakat melakukan ini secara terus-menerus-kadang-kadang
bahkan tanpa sadar-termasuk mereka yang tidak mengerti makna konsep komunikasi.
Oleh karena itu dapat dimengerti bahwa komunikasi adalah kegiatan yang
dilakukan oleh semua anggota masyarakat kapan pun dan dimana pun di dunia ini.
Masalah ini akan
semakin penting artinya dalam mengkaji komunikasi politik. Komunikasi politik
mencakup masyarakat keseluruhan. Studi komunikasi politik tidak akan sempurna
bila komunikasi antar pribadi tidak memperoleh tempat yang penting dalam studi
tersebut. Meski harus diakui bahwa sebagian besar buku-buku teks yang membahas
komunikasi politik di Amerika Serikat lebih memusatkan perhatiannya pada
peranan media massa dalam komunikasi politik.
Studi komunikasi politik mencakup dua
disiplin dalam ilmu sosial: ilmu politik dan ilmu komunikasi (Maswadi
Rauf:1990) di kutif (Quee.GeeGee.wordpress.com Komunikasi Politik Dan Nimmo). Ia bisa dijadikan
kajian oleh ilmuwan komunikasi juga oleh ilmuwan politik.
Para ilmuwan politik
beranggapan bahwa komunikasi politik termasuk objek studi ilmu politik karena
pesan-pesan yang disampaikan dalam proses komunikasi itu mempunyai ciri-ciri
politik, yaitu berkaitan dengan kekuasaan politik/negara/pemerintahan
dan komunikator serta komunikan yang terlibat di dalamnya bertindak dalam
kedudukan mereka sebagai pelaku kegiatan politik . Para ilmuwan politik
beranggapan bahwa komunikasi politik adalah gejala yang selalu ada dalam setiap
sistem politik, seperti halnya para ilmuwan sosial lainnya yang beranggapan
bahwa komunikasi sosial adalah gejala yang tak terpisahkan dari masyarakat.
Opini public merupakan pendapat khalayak yang
biasa di sebut dengan pendapat umum. Dalam konteks komunikasi opini publik
berkaitan dengan komunikasi politik di mana salah satu tujuan dari komunikasi
politik adalah terciptanya opini public. Opini public merupakan bagian dari
kajian ilmu komunikasi di mana opini public ini di hasilkan dari penyampaian
pesan-pesan dan merupakan suatu proses komunikasi.
1.2
Rumusan Masalah
1.Apa yang di maksud Komunikasi
Politik?
2.Apa yang di maksud Komunikator
Politik?
3.Apa yang di maksud Opini Publik?
4.Apa Keterkaitan antara Komunikasi
Politik dan Opini Publik?
1.3
Tujuan
1.Untuk mengetahui apa itu
komunikasi politik.
2.Untuk mengetahui apa komunikator
politik
3.Untuk mengetahui apa itu opini
public
4.Untuk mengetahui bagaimana
keterkaitan komunikasi politik dengan opini public.
BAB II
PEMBAHASAN
A.KOMUNIKASI
POLITIK
2.1 Definisi Komunikasi Politik
Komunikasi merupakan kebutuhan setiap individu yang
hidup,di mana tidak ada satupun individu yang tidak melakukan komunikasi hal
ini adalah bukti dari kenyataan bahwa manusia adalah makhluk social yang tidak
mampu hidup sendiri. Individu yang satu dengan yang lainnya saling bergantung
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,oleh Karena itu komunikasi merupakan hal yang
sangat penting dalam kehidupan manusia. Membahas tentang komunikasi maka kita
sebagai negara demokratis tidak terlepas dari panggung politik dan komunikasi
politik. Komunikasi politik merupakan
proses komunikasi yang terjadi dalam konteks politik,dimana di dalamnya
terdapat komunikator politik,pesan politik,saluran politik dan dampak dari
pesan yang di komunikasikan oleh komunikator politik tersebut,komunikasi
politik ini merupakan suatu kegiatan para pelaku komunikasi politik.
Berikut
merupakan beberapa pengertian komunikasi politik menurut beberapa ahli yang di
kutip dari (Quee.GeeGee.wordpress.com Komunikasi Politik Dan Nimmo).
Drs.
Soemarno, AP. SH. Dalam bukunya Dimensi-Dimensi Komunikasi Politik mengutip
beberapa pengertian komunikasi politik dari beberapa pakar antara lain dari :
1.
Astrid
S. Susanto, Phd, merumuskan definisi komunikasi politik dalam bukunya “Komunikasi Sosial di Indonesia” sbb :
“Komunikasi politik adalah komunikasi
yang diarahkan kepada pencapaian suatu pengaruh sedemikian rupa, sehingga
masalah yang dibahas oleh jenis kegiatan komunikasi ini dapat mengikat semua
warganya melalui suatu sanksi yang ditentukan
bersama oleh lembaga-lembaga politik.” (1989: 9).
Dr. Rusadi Kartaprawira, SH. Dalam buku “Sistem Politik di Indonesia” , melihat
komunikasi politik pada kegunaannya yaitu :
“Untuk
menghubungkan pikiran politik yang hidup dalam masyarakat, baik Intra golongan,
institusi, asosiasi, ataupun sektor kehidupan politik pemerintah.” (1983: 64).
Soemarno. Ap. Drs., SH. menyatakan bahwa jika dilihat dari
tujuan politik an sich (semata-mata)
maka:
Di kutip dari
halaman blog Dan nimmo “Hakekat komunikasi politik adalah
upaya kelompok manusia yang mempunyai orientasi pemikiran politik atau
ideologi tertentu di dalam rangka menguasai atau memperoleh kekuasaan, dan
dengan kekuasaan mana tujuan pemikiran politik dan ideologi tsb, dapat
diwujudkan.”(1989: 9).
Dr. Astrid mengungkapkan lebih lanjut
bahwa “komunikasi politik merupakan suatu kegiatan para politik, melalui
kegiatan mana akan terjadilah realisasi penghubungan atau pengkaitan masyarakat
dengan lingkup negara.” (1989: 10)
Jadi, komunikasi politik merupakan
sarana pendidikan politik dan sosialisasi politik dalam hubungannya dengan
kehidupan kenegaraan.
Selanjutnya, kegiatan komunikasi politik
tidak hanya dilakukan secara internal di dalam negeri suatu negara, tetapi juga
dilakukan secara external dalam hubungan dengan negara-negara lain. Komunikasi
tersebut dikenal dengan komunikasi politik internasional, yang intinya
menunjukkan kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh suatu negara untuk
mempengaruhi tingkah laku politik negara lain.
Bertolak dari pendapat para pakar
tersebut di atas, jelaslah bahwa komunikasi politik memiliki lingkup pembahasan
yang cukup luas. Ia bukan hanya membahas bagaimana komunikasi dapat
dipergunakan untuk tujuan politik dan memperoleh kekuasaan secara
internal, namun membahas bagaimana suatu sistem berlangsung dan dapat
dipertahankan serta dialihgenerasikan. Di samping itu bagaimana komunikasi itu
dapat digunakan untuk mempengaruhi negara lain dalam mencapai tujuan politik
negara yang bersangkutan. Atau minimal
dapat mewujudkan suatu hubungan yang saling menguntungkan di antara dua negara
atau lebih.
Bertolak dari definisi-definisi di atas,
pada intinya dapat disimpulkan bahwa komunikasi politik adalah komunikasi yang
diarahkan pada pencapaian suatu pengaruh sedemikian rupa, sehingga masalah yang
dibahas oleh jenis kegiatan komunikasi tersebut dapat mengikat semua kelompok
atau warganya melalui suatu sanksi yang ditentukan bersama oleh lembaga-lembaga
politik. Sedangkan bila dilihat dari tujuan politik “an sich”, maka
hakekat komunikasi politik adalah upaya kelompok manusia yang
mempunyai orientasi pemikiran politik atau ideologi tertentu di dalam rangka
menguasai dan atau memperoleh kekuasaan untuk dapat mewujudkan tujuan pemikiran
politik dan ideologi sebagaimana yang diharapkan. (Menpen: ’90)
Sebagaimana terdapat dalam komunikasi
pada umumnya, komunikasi politik pun terdiri dari komponen-komponen:
komunikator, komunikan, message (pesan),
media dan pengaruh (efek). Komponen-komponen tersebut di bidang komunikasi
politik terdapat di dalam dua situasi politik atau struktur politik, yaitu
berada pada suprastruktur politik dan Infrastruktur politik.
Beberapa komponen yang terdapat dalam
suprastruktur politik terbagi ke dalam tiga kelompok yaitu yang berada pada
lembaga legislatif, eksekutif dan lembaga yudikatif. Di lain pihak
komponen-komponen yang berada di masyarakat atau infrastruktur politik terbagi
dalam asosiasi-asosiasi, antara lain:
1.
Partai
politik (political party)
2.
Kelompok
kepentingan (interest group)
3.
Para
tokoh politik (political figures)
4.
Media
komunikasi politik (media of political communication) dan sebagainya.
Dengan demikian, dalam sistem politik
komunikasi berfungsi sebagai penghubung antara situasi kehidupan politik yang
ada pada suprastruktur politik (The Govermental political sphere) dengan situasi kehidupan dalam
infrastruktur politik (Socio political sphere).
2.1.1 Paradigma Harold Laswel
Ilmuwan politik Harold Lasswell,
mengemukakan bahwa cara yang mudah untuk melukiskan suatu tindakan komunikasi
ialah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
Who ———– siapa ?
Says what ———- mengatakan apa ?
To Whom ———- kepada siapa ?
With what channel ———- dengan
saluran apa ?
With what effect ———– dengan
akibat apa ?
Pertanyaan tersebut di atas
mengidentifikasi unsur-unsur atau komponen-komponen yang biasa terdapat pada
komunikasi, yaitu : sumber atau komunikator, penerima (komunikan), pesan (message), saluran (channel) dan
tanggapan atau effect. “Baik diuraikan dalam teori pengalihan
informasi yang sangat canggih, maupun dalam pandangan sosiopsikologis yang
provokatif, kelima dasar Lassewll ini menyajikan cara yang berguna untuk
menganalisis komunikasi.” (Dan Nimmo, 1993 :13)( Quee.GeeGee.wordpress.com Komunikasi Politik Dan
Nimmo)
Meskipun demikian, memang rumus Lasswell
bila digunakan sebagaimana adanya, agak terlalu sederhana untuk mengorganisasi
pembicaraan mengenai komunikasi politik dan opini publik. Namun kiranya dengan
sedikit memodifikasi, paradigma ini sudah memadai sebagai rujukan untuk
membahas komunikasi politik.
Siapa komunikator politik, mengatakan
apa dengan saluran apa, kepada siapa dan dengan akibat apa akan dibahas satu
persatu setelah uraian apa itu komunikasi politik.
2.2 Komunikator Politik
Komponen yang paling menentukan dalam
setiap bentuk kegiatan komunikasi yaitu komunikator dan komunikan. Karena tanpa
kedua komponen tersebut maka proses komunikasi tidak akan terjadi (Quee.GeeGee.wordpress.com Komunikasi Politik Dan Nimmo). Pertanyannya sekarang ,siapa saja yang
termasuk ke dalam komunikator itu ?.
Komunikator
politik dapat di kenali dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1.
Komunikator
poltik adalah merupakan pihak yang pertama mempunyai inisiatif
2.
Komunikator
politik adalah orang yang mempunyai ide atau gagasan yang akan di sebar luaskan
3.
Komunikator
politik merupakan orang atau pihak yang pertama mengajak berkomunikasi
4.
Komunikator
politik merupakan orang yang bemaksud untuk mempengaruhi,mengubah,dan membentuk
sikap,pendapat dan tingkah laku orang lebih secra perorangan maupun kelompok.
Bertolak
dari ciri-ciri di atas ,maka Drs. Soemarno, Ap. S.M. dalam bukunya
”Dimensi-dimensi politik” (Quee.GeeGee.wordpress.com
Komunikasi Politik Dan Nimmo)
Mengatakan yang menjadi komunikator politik adalah pemerintah,
karena ia sebagai pemegang inisiatif untuk mengadakan perubahan dan
pembaharuan, terutama di negara-negara yang sedang berkembang. Kemudian
dijelaskan lebih lanjut, yang menjadi komunikan komunikasi politik ialah
keseluruhan lapisan masyarakat, baik yang berdiri sendiri maupun yang tergabung
dalam bentuk asosiasi, perkumpulan atau kelompok-kelompok tertentu.
Menurut Dr
Astrid, komunikator dan komunikan itu harus saling mengisi dan merupakan
interdependensi yang positif, sehingga komunikasi berjalan dengan harmonis.
Dalam proses komunikasi, pada saat
tertentu komunikan bisa berganti peran menjadi komunikator dan yang semula
komunikator bisa menjadi komunikan tergantung dari pihak mana yang pertama
mempunyai inisiatif, gagasan, mengajak berkomunikasi dan mempengaruhi. Berbeda
dengan Drs. Soemarno, berikut ini akan diuraikan pendapat Dan Nimmo (Quee.GeeGee.wordpress.com).
Siapa Komunikator politik ?
Para komunikator politik ,jika di bandingkan dengan warga negara pada
umumnya,sering di tanggapi sungguh-sungguh bila mereka mengirimkan sebuuah
pesan komunikasi (berbicara) atau berbuat. Sehubungan dengan hal itu maka dalam
makalah ini kita akan mengidentifikasi tiga kategori para komunikator politi
ini,kemudian akan meninjau unsur-unsur dan segi-segi pokok peran pemimpin
politik. Dan Nimmo ,mengindentifikasinya menjadi tiga kategori :
1. Politikus yang bertindak sebagai komunikator politik
Politikus adalah “orang yang bercita-cita untuk dan atau
memegang jabatan
pemerintah
harus dan memang berkomunikasi tentang politik: tidak peduli apakah mereka
dipilih, ditunjuk, atau pejabat karier dan tidak mengindahkan apakah jabatan
itu eksekutif, legislatif, atau yudikatif.” Meskipun politikus melayani
beraneka ragam tujuan dengan berkomunikasi, ada dua hal yang menonjol. Daniel Katz menunjukkan bahwa pemimpin politik
mengarahkan pengaruhnya ke dua arah: 1. Mempengarhi alokasi ganjaran
2.menngubah struktur social yang ada atau mencegah perubahan.
Dalam hal yang pertama, politikus itu berkomunikasi sebagai
wakil suatu kelompok, pesan
pesan politik itu mengajukan dan atau melindungi tujuan
kepentingan politik; artinya komunikator politik mewakili kepentingan
kelompok. Sebaliknya, politikus yang bertindak sebagai ideolog tidak
begitu terpusat perhatiannya untuk mendesakkan tuntutan seseorang anggota
kelompok; ia lebih menyibukkan dirinya untuk menetapkan tujuan kebijakan yang
lebih luas, mengusahakan reformasi, dan bahkan mendukung perubahan
revolusioner. Jadi ideolog itu terutama berkomunikasi untuk membelokkan mereka
kepada suatu tujuan tertentu, bukan mewakili kepentingan mereka dalam
gelanggang tawar-menawar dan mencari kompromi.
Pertanyaannya sekarang
adalah siapakah politikus utama yang bertindak sebagai
komunikator politik yang menentukan
politik pemerintah suatu negara?. Yang pertama adalah
para pejabat pemerintah, baik yang dipilih maupun yang diangkat, yang secara
tetap berkomunikasi mengenai sejumlah besar masalah, subyek, dan materi politik
yang beraneka ragam. Mereka yang termasuk dalam kategori ini ialah para pejabat
eksekutif, legislator dan para pejabat yudikatif. Yang kedua adalah para politikus
tingkat nasional yang secara tetap berkomunikasi tentang sejumlah terbatas
masalah yang ralatif sempit, yang oleh James Rosenau disebut pembuat opini
nasional. Diantara kelompok ini antara lain: Sekretaris Jendral, Direktur
Jendral berbagai departemen dan
sejenisnya. Ketiga adalah
politikus yang tidak memegang jabatan dalam pemerintahan;mereka pun komunikator politik mengenai
masalah-masalah yang memiliki ruang lingkup nasional dan non nasional,
masalah jangkauannya luas dan sempit.
Jika ditarik kesimpulan, banyak jenis
politikus yang bertindak sebagai komunikator politik, sama banyaknya dengan
politikus dan dapat kita klasifikasikan mereka sebagai
(1) di dalam atau di
luar jabatan pemerintah,
(2) berpandangan
nasional atau subnasional dan
(3) beurusan dengan
masalah ganda atau masalah tunggal.
2. Komuniktor professional dalam politik
Dalam Dan Nimmo di jelaskan bahwa
komunikator professional mencari nafkahnya
dengan berkomunikasi,apakah ia di
dalam ataupun di luar politik. Komunikator professional merupakan peranan
social yang relative baru atau merupakan suatu hasil sampingan. Menurut James Carey, dalam (Dan Nimmo) komunikator profesional adalah
“seorang makelar simbol, orang yang menerjemahkan sikap, pengetahuan dan minat
suatu komunitas yang berbeda tetapi menarik dan dapat dimengerti”. Komunikator
profesional menghubungkan golongan elit dalam organisasi atau komunitas manapun
dengan khalayak umum. Komunikator profesional adalah manipulator dan makelar
simbol yang menghubungkan para pemimpin satu sama lain dan dengan para
pengikut.
Perangkat profesional mencakup:
1)Jurnalis meliputi reporter yang bekerja pada koran, majalah, radio, televisi
atau siapapun yang berkaitan dengan media berita dalam pengumpulan, persiapan,
penyajian dan penyerahan laporan peristiwa. 2) Promotor adalah orang yang
dibayar untuk mengajukan kepentingan langganan tertentu, seperti agen
publisitas, PRO pada instansi pemerintah maupun swasta, personel periklanan,
manajer kampanye dan pengarah publisitas kandidat politik,spesialis teknis
(kameramen, produser, sutradara film, pelatih pidato, dsb) yang bekerja untuk
kepentingan kandidat politik.
3. Aktivis atau komuniaktor paruh waktu (part-time)
Mereka yang termasuk ke dalam golongan
ini: Pertama, terdapat juru bicara bagi kepentingan
yang terorganisir. Pada umumnya orang
ini tidak memegang atau mencita-citakan jabatan pada pemerintahan. Jubir
biasanya bukan profesional dalam komunikasi, namun ia cukup terlibat baik dalam
politik maupun dalam komunikasi, sehingga bisa disebut aktivis politik dan semi
profesional dalam komunikasi politik. Ia berbicara untuk kepentingan yang
terorganisasi dan merupakan peran politikus yang menjadi wakil partisan, yakni
mewakili tuntutan anggota suatu organisasi dan tawar – menawar untuk hal-hal
yang menguntungkan. Sebagaimana politikus dan profesional, juru bicara
kepentingan yang terorganisasi beroperasi pada tingkat nasional dan subnasional
serta menangani masalah-masalah berganda maupun tunggal. Kedua, jaringan
interpersonal mencakup komunikator politik utama, yaitu “pemuka pendapat” (opinion leader); yaitu orang yang suka dimintai
petunjuk dan informasi tentang sesuatu hal oleh anggota masyarakat serta
senantiasa dihormati.
Mereka senantiasa tampil dalam dua hal:
(1) Mereka sangat mempengaruhi keputusan orang lain, artinya mereka meyakinkan
orang lain dalam cara berpikir, (2) Mereka meneruskan informasi politik dari
mass-media kepada masyarakat umum, dengan istilah lain disebut “komunikasi dua
tahap.” Artinya pemuka pendapat memperoleh informasi dari mass-media (radio,
TV, film, media cetak) lalu mereka meneruskan informasi tsb. kepada penduduk
yang kurang aktif. Kesimpulan: siapakah yang menjadi komunikator politik utama
itu? Ada tiga macam yang terpenting, yaitu : politikus, profesional dan
aktivis.
2.3 Pesan Politik
Dalam komunikasi politik tidak terlepas dari pesan politik yang di sampaikan
oleh komunikator politik (says what) mengatakan apa dan siapa yang mengatakan.
Pesan politik merupakan hal tak terpisahkan dari komunikator politik Karena ini
merupakan satu hal yang menonjolkan seseorang sebagai komunikator
politik,apakah pemimpin yang mengatakan itu adalah politikus professional atau
hanya warga biasa yang aktif dalam panggung politik.
Pertanyaannya
adalah apa yang membuat pesan itu menjadi pesan politik?
Sebelumnya telah
di jelaskan bahwa salah satu definisi politik adalah kegiatan orng-orang dalam
mengatur perbuatan mereka sendiri dalam kondisi konflik social, yakni usah
untuk merundingkan peenyelesaian perselisihan yang dapat mereka terima. Dan Nimmo
juga menjelaskan bahwa negosiasi politik bertujuan mencapai pengertian bersama
diantara pihak-pihak tentang apa makna dan syarat-syarat persetujuan yang
diterima.
Menurut Davis V. J. Bell (dalam Dan Nimmo,1993)(
Quee.GeeGee.wordpress.com Komunikasi Politik Dan Nimmo),menyebutkan bahwa ada tiga hal yang
menjadikan sebuah pembicaraan menjadi pembicaraan politik yang pasti dan jelas
sekali politis yaitu : pembicaraan mengenai kekuasaan,pembicaraan mengenai
pengaruh, dan pembicaraan mengenai otoritas.
1.
Pembicaraan
mengenai kekuasaan akan mempengaruhi orang lain dengan ancaman atau janji.
Kunci pembicaraan mengenai kekuasaan ini ialah bahwa orang mempunyai cukup
kemampuan untuk mendukung jaanji maupun ancaman,dan orang lain mnegira bahwa
pemilik kekuasaan itu akan melakukannya. Jadi janji,ancaman,penyuapan dan
pemerasan adalah sebagai alat tukar pada komunikasi kekuasaan berdasarkan pada
kemampuan memanipulasi sanksi positif atau negative.
2.
Pembicaraan pengaruh tanpa sanksi-sanksi seperti tersebut di
atas. Memberi pengaruh (karena prestise atau reputasinya) dengan berhasil
memanipulasikan persepsi atau pengharapan orang lain terhadap kemungkinan
mendapat untung atau rugi. Pada komunikasi pengaruh alat tukar komunikasinya
ialah nasihat, dorongan, permintaan dan peringatan
3.
Pembicaraan otoritas adalah pemberian perintah. Yang
dianggap sebagai penguasa yang sah adalah suara otoritas dan memiliki hak untuk
dipengaruhi. Sumber pengesahan sama dengan sumber otoritas, yaitu antara lain :
keyakinan religius, sifat-sifat supernatural, daya tarik pribadi, adat ,
kebiasaan, kedudukan resmi,dan lain-lain.
B.OPINI PUBLIK
3.1 Definisi Opini Publik
Opini publik menurut Bernard Hennesy adalah
kompleks preferensi terhadap suatu isu yang berkaitan dengan umum yang
dilakukan oleh sekelompok orang.(Cecep Hidayat dalam Departemen Ilmu Politik
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia).
Opini public
terdiri dari kata ,yaitu opini dan public. Opini di ambil dari kata opinion
(inggris) yang berarti pendapat,demikian juga dengan kata publik berasal dari
kata public (inggris) yang kenudian di terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia
yang berarti public atau umum ,dengan demikian opini publik sama dengan pendapat
umum,Karena kedua tersebut sama sama di pakai di Indonesia.
Opini public ini
merupakan sekelompok orang dengan kepentingan yang sama memliki suatu pendapat
mengenai suatu persoalan atau masalah yang menimblkan pertentangan atau
kontroversial. Publik terdiri dari individu-individu yang bersama- sama di
pengaruhi oleh suatu kegiatan,gagasan,ide khusus ataupun sebuah
isu.(fikom-jurnalistik.blogspot.com).
Beberapa
formulasi yang berbeda terhadap opini maupun publik dalam perspektif ilmu
komunikasi yang merupakan sebagian dari ilmu sosial.
·
Rober E. Lane dan David O. Sears (1965:8):
“... an opinion is an answer that is
given to a question in given situation”.
·
Kimbal Young (Hartono,1966: 44)
menambahkan bahwa “opinion means a belief
or conviction more variable and stronger in intensity than a mere hunch or
impression but less valid than truly verifiable or positive knowledge”
·
William Albig (1939:6): “opinion is any expression on a controversial
topic”. Selanjutnya Albig memberikan perumpamaan, bahwa sesuatu yang sudah
jelas/nyata tidak dapat dipertentangkan untuk melahirkan opini.
Berdasarkan
rumusan di atas, opini dapat dipahami sebagai pernyataan yang di komunikasikan
sebagai jawaban atas pertanyaan atau permasalahan yang kontroversial.
Selanjutnya
publik diartikan sebagai sekelompok orang yang menaruh perhatian terhadap masalah
yang dilontarkan melalui media massa, dan ikut serta dalam proses diskusi yang
intensif untuk mencari cara memecahkan masalah yang dihadapi untuk kepentingan
umum/orang banyak. Kimbal Young (Hartono, 1966: 45): publik tidak mesti selalu
bertemu muka atau berhubungan langsung, ditambahkan bahwa yang dimaksud publik
adalah sejumlah orang yang terpencar dan memberikan reaksi terhadap suatu
stimuli.
Publik diartikan sebagai kelompok orang yang menaruh
perhatian terhadap masalah yang dilontarkan melalui mass media dan ikut serta
dalam proses diskusi yang intensif untuk mencari cara memecahkan masalah yang
dihadapi untuk kepentingan umum atau orang banyak. Dalam hal ini publik
diartikan tidak sama dengan massa, melainkan diartikan sebagai
individu-individu di dalam kelompok yang memiliki atau diharapkan memiliki
opini.
Kimbal Young menyatakan “ The public is not held
together by face or shoulder to shoulder contacts; a number of people scatter in space react to
stimulus, which is provided by indirect and mechanical means of communication”.
Jadi publik tidak harus bertemu muka atau berhubungan langsun
Hartono Menjelaskan publik adalah kelompok yang
abstrak dan orang-orang yang menaruh minat pada suatu persoalan atau
kepentingan yang sama, dimana mereka terlibat dalam suatu pertukaran pikiran
melalui komunikasi tidak langsung untuk mencari penyelesaian atau kepuasan atas
persoalan atau kepentingan mereka itu.
Oey Hong Lee menjelaskan bahwa bagian-bagian massa
yang tertarik oleh masalah-masalah dan persoalan-persoalan kemasyarakatan yang
diteruskan oleh alat-alat komunikasi massa, secara spontan mempersatukan diri
dalm kelompok-kelompok yang dinamakan publik. Jumlah publik-publik secara
keseluruhan dinamakan dengan Publik (huruf
P besar). Selai n itu publik (huruf p
kecil) dijelaskan sebagai orang banyak yang terhimpun dalm kelompok-kelompok
yang sedang menghadapi suatu masalah yang sulit dan kontoversial, serta
berusaha untuk mencari solusi dengan melakukan diskusi-diskusi secara tidak
langsung.
Dalam publik itu terdapat individu-individu yang
mengerti masalah, rasional, kritis, bahkan spesialis dan memiliki kepentingan
yang perlu dijaga. Kelompok ini dapat juga dikatakan sebagai kelompok
kepentingan.
Lowrence Lowell
menyebutkan bahwa publik atau umum hanyalah golongan yang memiliki perhatian
besar dan pengetahuan cukup terhadap suatu masalah dan tidak mutlak merupakan
pendapat mayoritas. John Stuard Mill hanya mengartikan publik sebagai golongan
intelektual saja. Rousseau mengartikan publik adalah seluruh masyarakat
(volente generale) dengan berpegang pada prinsip demokrasi langsung.
Sehingga dapat diartikan bahwa Opini Publik adalah
pendapat yang sama dan dinyatakan oleh banyak orang yang diperoleh melalui
diskusi yang intensif sebagai jawaban atas pertanyaan dan permasalahan yang
menyangkut kepentingan umum. Whyte menyebutkan bahwa Opini Publik adalah sikap
dari rakyat mengenai suatu masalah yang menyangkut kepentingan umum.
Hennesy menyatakan Opini Publik adalah referensi yang
diekspresikan oleh sejumlah orang penting tentang suatu isu yang menyangkut
kepentingan umum. Kompleks referensi yang dimaksud adalah pertentangan
keinginan dari sejumlah orang. Sejalan dengan itu, Arifin menulis bahwa Opini
Publik adalah pendapat rata-rata individu dalam masyarakat sebagai hasi diskusi
tidak langsung yang dilakukan untuk memecahkan persoalan sosial, terutama yang
disebarkan oleh media massa, oleh sebab itu Opini Publik hanya akan terbentuk
jika ada isu yang dikembangkan oleh media massa yang menyangkuit kepentingan
umum.
Emory Bogardus menyatakan Opini Publik adalah hasil
integrasi pendapat berdasarkan diskusi yang dilakukan dalam masyarakat
demokratis. Alan D. Monroe merumuskan bahwa opini publik adalah distribusi
pilihan individu-individu di dalam masyarakat. R.O Tambunan menuliskan bahwa
Opini Publik adalah pendapat yang hidup dan berkembang sebagai bentuk interaksi
nilai dan lambang di dalm masyarakat.William Albig menyatakan bahwa Opini
Publik adalah hasil daripada interaksi atara orang-orang dalam suatu kelompok.
Kruger Reckless mengemukakan bahwa Opini Publik adalah
suatu pendapat hasil pertimbangan seseorang tentang suatu hal yang telah
diterima sebagai pikiran politik. L.W Doob menyatakan bahwa Opini Publik itu
menunjukan sikap orang-orang yang menjadi anggota suatu golongan terhadap suatu
masalah.
Bernard Bereleson mengatikan Opini Publik dengan
politik dan sosial. Ia menuliskan bahwa Opini Publik adalah tanggapan
orang-orang terhadap masalah- masalah politik dan sosial yang mengandung
pertentangan dan meminta perhatian umum
seperti hubungan internasional, kebijakan pemerintah, pemilihan umum, dan
hubungan antar etnis.
Opini
Publik yang disimpulkan oleh Arifin:
1.
Opini Publik adalah pendapat, sikap,
perasaan, ramalan, pendirian, dan harapan rata-rata individu kelompok dalam
masyarakat tentang suatu hal yang berhubungan dengan kepentingan umumatau
persoalan-persoalan sosial.
2.
Opini publik adalah hasil interaksi,
diskusi atau penilaian sosial antar individu tersebut yang berdasarkan
pertukaran pikiran yang sadar dan rasional yang dinyatakan baik lisan maupun
tulisan.
3.
Isu atau masalah yang didiskusikan itu
adalah hasil dari apa yang disebarkan oleh media massa.
4.
Opini Publik hanya dapat berkembang pada
negara-negara yang menganut faham demokrasi (faham yang memberikan kebebasan
pada warganya untuk menyatakan pendapat dan sikap)
Arifin menyatakan bahwa Opini Publik
paling kurang memilki tiga unsur. Pertama, harus ada isu yang aktuaal, penting,
dan menyangkut kepentingan pribadi kebanyakan orang dalam masyarakat atau
kepentingan umum, yang disiarkan melalui media massa. kedua, harus ada sejumlah
orang yang mediskusikan isu tersebut, yang kemudian menghasilkan kata sepakat
mengenai sikap, pendapat, dan pandangan mereka. Ketiga, pendapat tersebut
selanjutnya diekspresikan atau dinyatakan dalam bentuk lisan, tulisan, dan
gerak-gerik.
3.1.1 Opini
Publik dan HAM
Menurut pendapat
saya HAM merupakan hak yang melekat pada diri setiap manusia sejak awal di
lahirkanyang berlaku selama manusia itu hidup dan tidak dapat di ganggu gugat
oleh siapapun. Di Indonesia yang merupakan negara demokratis Setiap manusia
yang hidup di dalamnya memiliki hak untuk berpendapat baik pendapat berupa
kata-kata maupun berupa tulisan,keterkaitan HAM dengan opini publik tidak dapat
di pisahkan karena opini publik merupakan iplementasi dari HAM dalam
mengemukakan pendapat.
3.1.2 Macam-macam Opini
·
Opini
individu => Merupakan pendapat individu
mengenai suatu persoalan untuk di sampaikan kepada orang lain.
·
Opini
pribadi => Merupakan pendapat pribadi dan tidak untuk di sampaikan kepda
orang lain.
·
Opini
kelompok => Merupakan pendapat dari suatu kelompok mengenai suatu persoalan
·
Opini
mayoritas => Merupakan pendapat mayoritas atau terbanyak
·
Opini
minoritas => Merupakan pendapat minoritas atau paling sedikit
·
Opini
konsensus => Pendapat kesepakatan
·
Opini
koalisi => Merupakan pendapat dari gabungan beberapa oraganisasi
·
Opini
aklamasi => Merupakan pendapat yang dipilih.
3.2Pembentukan
Opini Publik
Proses
pembentukan opini publik dalam setiap kasus mungkin cepat, lambat, atau
ditangguhkan.Faktor-faktor tertentu membatasi dan memengaruhi sejumlah fakta, pengalaman dan penilaian yang menjadi dasar pembentukan opini.
Ada kemungkinan terjadi sejumlah kombinasi antar faktor yang menguatkan
kesamaan opini, tetapi ada
sejumlah faktor lain yang menguatkan keanekaragaman opini.
Dalam beberapa kasus, satu atau beberapa faktor memberikan
pengaruh yang melebih faktor lain
terhadap opini yang dipegang dengan teguh oleh kelompok tertentu. Dalam kasus
lain, sejumlah faktor memberikan pengaruh yang melemahkan opini.
Akhirnya, proses pembentukan opini
dapat ditangguhkan karena tidak ada informasi atau
resolusi yang kuat. Yang ada hanyalah pengaruh yang kuat, atau pengaruh yang saling bertentang. Dalam
kasus demikian, dikatakan tidak terjadi pembentukan opini. (Helena Olii.36)
Kekuatan
opini publik :
1. Menjadi kekuatan sosial
2. Melanggengkan atau menghapuskan nilai
dan norma dalam masyarakat.
3. Mengancam karir seseorang, keberadaan
organisasi atau perusahaan.
4. Mempertahankan atau menghancurkan
organisasi atau perusahaan.
(Nimmo.2005) (Quee.GeeGee.wordpress.com
Komunikasi Politik Dan Nimmo)
Dengan demikian, opini publik
merupakan pendapat yang ditimbulkan oleh adanya unsur-unsur sebagai berikut:
1. Adanya masalah atau situasi yang
bersifat kontroversial yang menimbulkan pro dan kontra.
2. Adanya publik yang terpikat kepada
masalah tersebut dan berusaha memberikan pendapatnya.
3. Adanya kesempatan bertukar pikiran
atau berdebat mengenai masalah yang kontroversial tersebut.
Dari beberapa defenisi diatas maka
dapat disimpulkan bahwa:
1. Opini merupakan suatu pandangan,
keputusan, atau taksiran individu atau kelompok.
2. Opini publik merupakan pengekspresian
sikap seseorang atau kelompok.
3. Opini merupakan kompleksitas keyakinan
suatu individu atau kelompok.
4. Opini publik merupakan penilaian suatu
individu atau kelompok.
5. Opini publik merupakan pendapat suatu
individu atau seseorang.
Faktor-faktor
yang dapat membentuk opini tersebut, menurut D.W. Rajecki, dalam bukunya Attitute, themes and
Advence, (1982) (yang dikutip
dari jurnalapapun .blogspot.com), yaitu mempunyai tiga komponen, yang dikenal
dengan istilah ABCs of
Attitude, penjelasannya
sebagai berikut:
1. Komponen
A: Affect (perasaan atau emosi)
Komponen ini berkaitan dengan rasa
senang, suka, sayang, takut, benci, sedih, dan kebanggan hingga muak atau
bosanterhadap sesuatu, sebagai akibat setelah merasakannya atau timbul setelah
melihat dan mendengarkannya. Kemudian komponen efektif tersebut merupakan
evaluasi berdasarkan perasaan seseorang yang secara emotif (aspek emosional)
untuk menghasilkan penilaian, yaitu: ”baik atau buruk”.
2. Komponen
B: behaviour (tingkah laku)
Komponen ini lebih menampilkan
tingkahlaku atau perilaku seseorang, misalnya bereaksi untuk memukul,
menghancurkan, menerima, menolak, mengambil, membeli dan lain sebagainya. Jadi
merupakan komponenuntuk menggerakkan seseorang secara aktif (action element)
untuk mmelakukan ”tindakan atau berperilaku” atas suatu reaksi yang sedang
dihadapinya.
3. Komponen
C: Cognition (pengertian atau nalar)
Komponen kognisi ini berkaitan
dengan penalaran seseorang untuk menilai suatu informasi, pesan fakta dan
pengertian yang berkaitan dengan pendiriannya. Komponen ini mmenghasilkan
penilaian atau pengertian darri seseorang berdasarkan rasio atau kemampuan
penalarannya. Artinya kognitif tersebut merupakan aspek kemampuan
intelektualitas seseorang yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan. (dalam
Ruslan, 2003:61)
Menurut Renald Kasali, dalam bukunya
Menajemen Publik Relations Konsep dan Aplikasinya di Indonesia, (2003) yang di
kutip dari Jurnalapapun.blogspot.com, bahwa perkembangan opini individual
menjadi opini publik, baik bersifat mendukung mau mendatang, secara garis
besarnya melalui beberapa tahapan-tahapan:
1. Proses waktu
Memerlukan proses waktu untuk
membentuk consensusatas
masing-masing individu, dan berapa lama waktu yang diperlukan sangat tergantung
pada unsur emosi, kesamaan persepsi, kepercayaan atas suatu isu berita yang
tengah berkembang, tingkat pengalaman yang sama dan hingga tindakan yang dinbil
oleh narasumber berita.
2. Cakupan (luasan publik)
Konsensus atas masing-masing
individu terhadap pembentukan opini publik, biasanya berawal dari segmen yang
paling minor (kecil), kemudian cepat atau lambat menjadi segmen mayor atau berkoalisi dengan kelompok
yang lebih luas.
3. Pengalaman masa lalu
Khalayak (audience) pada
umumnya pernah memiliki pengalaman terhadap isu tertentu yang sedang
dibicarakan (diekspos). Makin intensif hubungan antaraaudience dan isu sebagai obyek pembicaraan,
maka semakin banyak kesamaan pengalaman yang akan dirasakan oleh khalayak
tersebut menjadi suatuconsensus.
4. Tokoh (aktor pelaku)
Hampir setiap kasus termasuk
didalamnya kasus-kasus kriminal yang terekspos keluar oleh media massa, sudah
pasti akan selalu ada ”tokohnya” (actor), baik bersifat intelektual, politisi,
eksekutif, tokoh keagamaan dan masyarakat yang dapat membentuk consensusmasyarakat.
5. Media
massa sebagai pembentuk opini publik
Berita yang ditampilkan atau
diekspos keluar oleh media massa merupakan cara efektif pembentukan opini
publik atau masyarakat umum (dalam Ruslan, 2003:65-68) yang di kutip dari laman
web jurnalapapun.blogspot.com. Opini individu muncul sebagai akibat
persepsi-persepsi yang timbul terhadap suatu permasalahan yang terjadi
dimasyarakat. Opini berdasarkan penafsiran setiap individu atau setiap orang
akan berbeda pandangannya terhadap suatu masalah. Opini itu bisa setuju dan
tidak setuju, atau menimbulkan pro dan kontra. Dengan demikian, baru akan
diketahui bahwa ada orang-orang lain yang sependapat dan ada yang tidak
sependapat dengan dia, setelah ia memperbincangkannya dengan orang lain. Jadi,
opini publik itu merupakan perpaduan dari opini-opini individu.
3.2.1 Hubungan antara sikap dan opini
Sikap merupakan merupakan konsep dasar diri seseorang ketika
berhadapan dengan suatu hal,dalam opini pulik sikap adalah hal dasar yang
melatarbelakangi pendapat atau opini,maka opini ataupun opini public itu
merupakan perwujudan dari sikap yang ada pada diri setiap individu.
Santtoso sastroputro (1990) mengutip cutlip dan Center
(1961) (dalam Helena Olii 33),Opini adalah penyataan tentang sikap mengenai
masalah tertentu yang bersifat kontroversial. Opini tibul sebagai hasil
pembicaraan tentang masalah yang kontroversial yang menimbulkan pendapat yang
berbeda-beda. Lalu,bagaimana dengan sikap? Menurut Cutlip dan Center,Sikap
(attitude),adalah kecendrungan memberikan respon terhadap masalah atau situasi
tertentu.
Opini dan sikap memiliki pengertian yang
berbeda. Akan tetapi,kedua istilah itu sama-sama mengacu ke intraksi yang
berkesinambungan. Sikap ada di dalam diri seseorang,sedangkan opini (ekspresi) keluar dari seseorang . Dengan
demikian sikap dan opini mengacu ke kerjasama yang berkesinambungan di dalam
diri manusia dalam menghadapi masalah atau situasi tertentu.
3.2
Karakteristik Opini Publik
Opini Publik dalam fenomena social
dan politik khusunya bidang komunikasi politik memiliki karakteristik tertentu.
Floyd Allport (1945:55) dalam (Arifin 2010 : 13) mengupulkan 12 opini public.
Secara ringkas pokok-pokok karakteristik itu ialah. Opini Publik merupakan prilaku
individu-individu; situasi dan objeknya di kenal secara luas; dinyatakan secara
verbal;melibatkan banyak individu;penting untuk orang banyak;pendukungnya tidak
mesti berada pada tempat yang sama;bersifat menentang atau mendukung
sesuatu;mengandugn unsur-unsur pertentangan;dan efektif untnuk mencapai
objektivitas.
Hendley Cantril
(Gauging Public Opinion) dalam Arifin (1998 : 119-120) dari lembaga penelitian
Opini Publik dari Universitas Princeton mengumpulkan prinsip – prinsip yang
merupakan karakteristik Opini Publik. Prinsip –prinsip tersebut sebagai berikut
:
1.
Opini Publik sangat peka (govoelig)
terhadap peristiwa – peristiwa penting.
2.
Peristiwa – peristiwa yang bersifat luar
biasa dapat menggeser Opini Publik seketika dari suatu ekstermis yang satu ke
ekstermis yang lain. Opini Publik itu baru akan mencapai stabilitasnya apabila
kejadian – kejadian dari peristiwa itu memperlihatkan garis – garis besar yang
jelas.
3.
Opini pada umumnya lebih banyak ditentukan
oleh peristiwa – peristiwa dari pada oleh kata – kata, kecuali kata – kata itu
sendiri merupakan suatu peristiwa.
4.
Pernyataan lisan dan garis – garis
tindakan merupakan hal yang teramat penting dikala opini belum terbentuk dan
dikala orang – orang berada dalam keadaan suggestible dan mencari keterangan
dari sumber terpercaya.
5.
Pada umumnya Opini Publik tidak mendahului
keadaan – keadaan darurat, ia hanya mereaksi keadaan itu.
6.
Secara psikologis, opini pada dasarnya
ditentukan oleh kepentingan pribadi, peristiwa kata – kata dan lain – lain
perangsang memengaruhi pendapat hanya jika ada hubungannya yang jelas dengan
kepentingan pribadi itu.
7.
Opini atau pendapat tidaklah bertahan
lama, kecuali jika orang – orang merasa bahwa kepentingan pribadinya benar –
benar tersangkut atau jika pendapat yang dibangkitkan oleh kata – kata
diperkuat oleh peristiwa – peristiwa
8.
Sekali kepentingan pribadi telah
tersangkut, opini tidaklah mudah diubah.
9.
Apabila kepentingan pribadi telah
tersangkut, pendapat umum di dalam negara demokrasi cenderung mendahului
kebijakan pihak yang berwenang.
10.
Jika suatu pendapat didukung oleh suatu
mayoritas yang tidak terlalu kuat dan jika pendapat tidak mempunyai bentuk yang
kuat pula, maka fakta – fakta yang nyata ada kecenderungan mengalihkan pendapat
dan arah penerimaan.
11.
Pada saat kritis, rakyat menjadi lebih eka
(govoelig) terhadap kemampuan pimpinannya dan apabila mereka memunyai
kepercayaan terhadapnya, maka mereka akan rela untuk lebih banyak memberikan
tanggung jawab dari pada biasanya, akan tetapi apabila kepercayaan mereka itu
kurang, maka toleransi mereka pun berkurang dari biasanya.
12.
Rakyat akan kurang melakukan penentangan
terhadap keputusan – keputusan yang telah diambil dalam keadaan darurat
(kritis) oleh pimpinannya, apabila dengan cara – cara tertentu mereka merasa
diikutsertakan dalam pengambilan keputusan tersebut.
13.
Rakyat memiliki hubungannya dengan suatu
tujuan dari pada terhadap cara – cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan
itu.
14.
Cita – cita mewarnai Opini Publik
sebagaimana halnya juga dengan pendapat pribadi. Apabila sesuatu pendapat
semata – mata berdasarkan suatu cita – cita kepada suatu penerangan, hal itu
cenderung memperlihatkan arah perhatian yang besar sekali terhadap peristiwa –
peristiwa.
15.
Pada umumnya, apabila rakyat dalam suatu
masyarakat demokratis diberi kesempatan luas untuk memperoleh pendidikan dan
ada kesempatan luas untuk mendapatkan penerangan – penerangan, Opini Publik
akan merupakan suatu pendirian yang lebih tahan uji. Semakin cerdas pengetahuan
rakyat atas tindakan – tindakan suatu peristiwa dan sesuatu gagasan bagi
kepentingannya sendiri, semakin cenderung pula mereka untuk menyetujui pendapat
– pendapat yang lebih objektif dari pada ahli yang realistis.
16.
Dimensi psikologis dalam sesuatu pendapat
mempunyai peranan penting dalam hal pengarahan, intensitas, keluasan dan
kedalaman.
17.
Walaupun Opini Publik selalu bersesuaian
namun banyak pula hal yang tidak demikian, akan lebih jelas kebenarannya
apabila cara berpikir diteliti dan prinsip – prinsip penilaiannya telah
ditemukan, dari mana pendapat khusus tersimpulkan.
3.3
Fungsi danPeran Opini Publik
Dalam Anwar Arifin di sebutkan bahwa perkembangan awalnya
opini publik selalu di kaitkan dengan politik, terutama dalam konteks negara
demokrasi ,baik sebagai sitem politik maupun demokrasi sebagai gaya hidup.
Jaquas Necker menyebut bahwa opini publik adalah merupakan kekuatan politik.
Hal ini juga diungkaapkan oleh Astrid (1975) yang menulis nahwa pendapat umum
adalah sebagai kekuatan politik. Dalam hal ini Jeremy Benthan juga mengatakan
bahwa opini publik berfungsi sebagai social control dan berperan sebagai dasar peran membangun
negara demokrasi ( Opini Publik Anwar Arifin :19).
3.4
Komunikasi Politik dengan Opini Publik
3.4.1 Kehadiran Komunikasi
Politik
Sejak awal perkembangan Opini Publik selalu saja di
kaitkan dengan Komunikasi politik. Hal ini telah di uraikan dalam bab I,yang
menempatkan opini sebagai kekuatan politik dan dasar dari negara demokrasi .
Dengan demikian maka pembentukan opini publik akan berkaitan pula dengan
komunikasi politik sebagai salah satu jenis komunikasi manusia. Bahkan opini
publik merupakan efek dari komunikasi politik. Hal ini dapat di kaji dari karya
Dan Nimmo tahun 1978 yang berjudul Political Communications and Public Opinion
in America (Anwar Arifin 2010 : 73). Beliau mengurikan dengan jelas bahwa
tujuan komunikasi politik adalah pembentukan Opini Publik.
Komunikasi politik sebagi subdisplin,memang masih relatif
baru berkembang pada tahun 1970-an yang melintasi berbagai disiplin dan
dibesarkan secara lintas disiplin. Meskipun demikian komunikasi politik
sesungguhnya telah ada sejak manusia berkomunikasi dan berpolitik. Namun
sebagai kajian ilmiah ,apakah sebagai bagian dari ilmu politik atau bagian dari
ilmu komunikasi memang belum begitu lama di gunakan.
3.4.2 Proses Komunikasi Politik dan Opini Publik
Dalam
Anwar Arifin di jelaskan bahwa dengan memusatkan perhatian kepada pesan politk
atau pembicaraan politik sebagai objek formal dalam ilmu komunikasi
politik,maka pembicaraan tentang politik itu kemudian dapat di kembangkan dalam
kerangka persfektif mekanistis,yaitu siapa yang bicara politik,kepada
siapa,melalui saluran apa,dan bagaimana efeknya. Dimana hal ini mengikuti
formula Harold Laswell (1936) yang sudah lama di kenal yaitu : who, says what, to whom,with what channel,
and whit what effect.
Kemudian
di jelaskan bahwa rumusan ini oleh nimmo (1999:13 dan 30)di uraikan tentang
unsur-unsur komunikasi politik. Unsur-unsur itu,ialah komunikasi politik
(siapa),pesan-pesan politik (berkata apa), media politik (memalui saluran apa),
khalayak politik (kepada siapa), efek politik (bagaimana efeknya).Unsur siapa (who) dalam model adalah komunikator
politik dimana ini adalah orang yang pertama mempunyai ide atau gagasan unutk
di sampaikan kepada khlayak politik,unsur mengatakan apa (says what) dalam model ini adalah pesan politik yang di sampaikan
oleh komunikator poltik kepada khalayak politiknya,unsur kepada siapa (to whom) dalam model ini adalah kepda
siapa komunikator politik menyampaikan pesan politiknya,unsur dengan salluran
apa (in with Channel) dalam model
adalah media apa yang di gunakan oleh komunikator politik untuk menyampaikan
pesan politk kepada khalayak,unsur dengan efek apa (with what effect) dalam model ini adalah dampak yang di akibatkan
ketika komunikator politik menyampaikan pesan politiknya kepada khalayak adalah
opini publik
Nimmo
(1999) juga menjelaskan bahwa opini publik itu selanjutnya menimbulksn efek,
berupa sosialisasi politik, partisipasi politik,pemberian saran dan pemilihan
umum dan pengambilan keputusan tentang kebijakan publik. Komunikator politik
terdiri dari politikus,aktivis dan profesional. Politikus adalah orang yang
memiliki cita-cita untuk atau sedang memegang jabatan formal di pemerintahan
(eksejutif dan legislatif) yang selalu berkomunikasi tentang politik dan membuat
politik sebagai lapang pekerjaan. Sedang komunikator profesional adalah pekerja
dalam bidang informasi seprti wartawan redaktur dan pejabat public
relation,sedangkan aktivis adalah merupakan juru bicara bagi kepentingan yang
terorganisasi,dan tidak memiliki jabatan formal dalam pemrintahan.
3.4.3 Opini Publik Sebagai Pesan dan Efek Komunikasi
Politik
Opini
publik merupakan hasil atau efek yang di timbulkan akibat terpaan pesan
poliltik yang di sampaikan oleh komunikator politik kepada khlayaknya hal ini
di lihat berdasarkan paradigma mekanistis,terutama komunikasi politik yang di
salurkan melalui media massa (pers radio
dan televisi). Dengan kata lain opini publik terdapat pada khalayak atau
audience,justru itu khalayak harus jadi sasaran penting dalam kajian opini
publik (Anwar Arifin 2010:84).
Rosenau
(1961) menjelaskan bahwa publik itu terbagi menjadi tiga bagian menjadi tiga
level publik yang kemampuan dan kapasitasnya berbeda satu dengan yang lainnya.
Level pertama ialah lapisan atas atau bisa di sebut dengan opinion making public (pembuat opini publik), yaitu mereka yang
tidak hanya mampu mengemukakan opininya secara terbuka ,tetapi juga mampu
mempengaruhi opini orang lain ,terutama memobilisasi dukungan dukungan terhadap
opininya atau opini orang lain yang di dukungnya. Level kedua adalah lapisan
menengah yang di sebut attentive public,yaitu mereka yang amat teratrik
,berminat dan aktif mengamati kecendrungan opini publik ,misalnya dengan cermat
mengikuti perkembangan informasi yang di sebarkan oleh media massa. Berdasarkan
masukan yang di terimanya iapun kemudian menetapkan opininya sendiri, namun tidak
mampu memobilisasi dukungan opini orang lain untuk mendukung opininya. Level ke
tiga adalah level bawah atau mass public yaitu mereka yang daya antisipasinya
atau sangat tipis,keterlibatan mereka dalam dinamika dan pasaran opini publik
lebih di motivasi oleh hubungan emosional, dan kurang memperhatikan
pertimbangan raional atau akal sehat (Astrid,1975 dalam Anwar 2010 : 87).
BAB III
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Setiap manusia tidak
terlepas dari yang namanya komunikasi baik itu secara verbal maupun itu non
verbal,komunikasi merupakan salah satu alat untuk bertahan hidup karena dengan
komunikasi kita dapat menerima informasi,mengekspresikan diri kita,bercerita,berteman
dengan orang mencari hal yang baru dan
sebagainya. Setiap bentuk komunikasi dapat berkaitan dengan segala aspek yang
berada dalam kehidupan kita,salah satunya adalah komunikasi yang sedang kita
bahas dalam ini yaitu komunikasi politik dan keterkaitannya dengan Opini
Publik.
Opini Publik merupakan hasil dari proses komunikasi
politik di mana seseorang akan mempunyai opini mengenai pesan politik yang di
kirimkan oleh komunikator politik,Opini individu inilah yang selanjutnya akan
menjadi Opini Publik di akibatkan dari proses komunikasi yang berjalan diantara
khalayak,yang berminat untuk ikut serta dalam suatu persoalan atau permasalahan
yang kontroversial,artinya Opini Publik bukanlah banyaknya opini yang terdapat
dalam masyarakat,tapi adanya integrasi dari opini yang ada di masyarakat. Sejak
awal perkmbanannya opini publik selalu dikaitkan dengan komunikasi
politik,opini publik dapat di jadikan sebagai kekuatan politik dan dasar dalam
negara demokrasi (Nimmo 2010). Dengan demikian maka proses pembentukan opini
publik akan berkaitan dengan komunikasi politik.
DAFTAR PUSTAKA
http//.Jurnalapapun.blogspot.com
http//.Fikomjurnalis.com
http//.Quee.GeeGee.wordpress.com
Komunikasi Politik Dan Nimmo
Anwar Arifin. Opini Publik 2010 Jakarta
Gratama Publishing
Helena Olii. Opini Publik Edisi ke Dua
2011 PT INDEKS Kembangan Jakarta Barat 11610
Tidak ada komentar:
Posting Komentar